Articles

TERNYATA HANTU ITU MASIH ADA!

Malam Senin tanggal 2 oktober 2011 telpon saya tiba-tiba berbunyi. Suara saya kenal berasal dari kawan saya yang kebetulan menjadi salah satu pejabat fakultas di tempat saya bekerja sekarang. Saya yang baru saja merebahkan badan di kamar kos setelah perjalanan dari Malang-Surabaya terperanjat dengan kabar dari pejabat tersebut. Kawan saya menyampaikan semua pesan dengan halus, tentunya untuk menjaga perasaan saya sebagai pihak yang dimungkinkan terlibat.

Yang kemudian berkelebat dalam pikiran saya adalah masalah stigmatisasi. Saya bermain-bermain dengan imajinasi saya. Apa yang sebenarnya mungkin terjadi dan kenapa bisa terjadi.

Ketika saya masih mahasiswa S1, saya gemar membaca buku-buku filsafat kritis. Saya membaca teori kritis sekolah Frankfurt yang memang neomarxis hingga postmodernism. Saya membaca Horkhemier hingga Habermas. Saya juga gandrung dengan tulisan Erich Fromm. Saya sempat menjadi penggemar pemikiran Anthony Gidden yang salah satunya juga dipengaruhi oleh pemikiran Marx. Sehingga sebenarnya bila memang ada sedikit bau Marx dalam pemikiran saya, itu bukan karena saya didikan Rusia yang ex Soviet itu. Bahkan sebelum saya berangkat studi lanjut ke Rusia, ketika mengajar kuliah Psikologi Humanistik saya pernah mewajibkan mahasiswa saya untuk membaca buku Tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Saya beranggapan bahwa dalam karya sastra sekaliber Pramoedya, problem-problem humanistik seperti historisitas, kesadaran intensionalitas, self-autonomy, self-determination tergambar dengan jelas. Tak pernah ada masalah dari mahasiswa atau laporan macam-macam. Tapi itu sebelum saya berangkat ke Rusia.

Masalah akan menjadi berbeda bila saya pulang dari Negara Ex-Soviet tersebut. Seminggu lalu saya mengajar materi tentang perkembangan kognitif. Dalam dunia psikologi terdapat dua teori besar yang selalu disandingkan dalam perkembangan kognitif. Yaitu teori kognitif Piaget dan teori kognitif Vygotsky. Vygotsky memang Marxian. Vygotsky kebetulan orang Soviet yang pemikirannya lahir pada masa rezim komunisme. Mungkin apa yang menimpa saya saat ini akan lain jika Vygotsky, si pengembang teori kognitif ini, adalah orang Arab, Jawa, Makassar, Madura, ataupun dari suku bangsa yang lain yang jauh dari tempat yang berbau ‘kiri’. Ketika menerangkan Vygotsky-pun saya tak hanya menerangkan tentang isi teori Vygotsky tapi juga zeitgeist dan juga antesedennya. Vygotsky memang dipengaruhi oleh pikiran materialisme dialektik ala marx. Saya menerangkan bagaimana kognitif berkembang tak hanya dari mekanisme internal yang inheren dalam diri seseorang sebagaimana teori Piaget, saya menjelaskan bahwa mekanisme kognitif bekerja melalui system tanda yang diajarkan oleh setiap budaya sebagaimana diajarkan Vygotsky. Disini saya memberi contoh banyak hal, mulai dari pengenalan operasi bilangan, huruf, bahasa, dan angka begitu juga simbol. Ketika menjelaskan symbol, saya menggambar simbol palu arit dan bertanya tentang asosiasi mahasiswa terhadap lambang tersebut. Intinya bahwa asosiasi dan jawaban-jawaban mereka terbentuk dari pengenalan simbol yang telah diajarkan oleh lingkungan. Sedangkan pada tanda dan simbol yang sama akan dimaknai berbeda oleh orang Vietnam, Cina, ataupun orang Sovyet. Hal yang sama adalah ketika lambang swastika dipahami berbeda oleh india dan eropa.

Disinilah kemudian imajinasi saya terbang ke awang-awang. Apakah kemudian ada mahasiswa yang beranggapan bahwa contoh dan ilustrasi yang saya buat adalah sebuah doktrin komunisme? Andaikata ada tentunya saya sebagai pengajar kecewa berat. Karena itu berarti saya gagal menyadarkan dan membangunkan kesadaran kritis anak didik saya, sekaligus gagal  membangunkan diri mereka dari dogma-dogma usang.

Saya kemudian merefleksikan diri saya. Siapa saya sekarang. Saya tak bisa menyalahkan asosiasi orang-orang di sekitar saya. Saya menyadari bahwa bila saya mengajarkan tentang sesuatu yang merah maka warnanya tak akan pernah menjadi netral atau tetap menjadi merah walau itu didiskusikan secara ilmiah. Orang-orang akan lebih memerah-merahkankan apa yang saya katakan merah. Ini adalah konsekuensi yang harus diterima setelah 3 tahun hidup di negara yang dulu pernah dikenal dengan symbol palu aritnya ini. Apalagi saya juga satu-satunya pengajar (di institusi saya) yang lulus dari negara tersebut di tengah gemerlapnya lulusan australia, amerika dan eropa barat. Posisi saya berbeda ketika saya mengajar tentang psikologi beraliran Marxian (misal Fromm dan Vygotsky) sebelum saya berangkat ke Rusia dan setelah saya 3 tahun di Rusia. Kalau dulu mungkin orang berpikiran bahwa bila saya mengajarkan psikologi ala Marxian hanyalah sekedar hasil pembacaan saja. Efeknya hal tersebut kemungkinan hanya berasosiasi lemah terhadap dugaan-dugaan yang terjadi seperti sekarang. Sekarang ketika saya ketiban materi yang sedikit “kiri” maka besar kemungkinan orang mudah berasosiasi, “wah dosennya dari Negara Kominis… pastinya dia bawa ideologi dan teori-teori kominis.” Saya memang tak bisa memungkiri bahwa selama belajar psikologi disana, saya banyak mendapatkan pengetahuan teoritik psikologi yang dihasilkan dari filsafat dialektika.

Ketambahan lagi sehari sebelumnya, saya menulis artikel di blog terkait pertanyaan saya tentang hakikat hari kesaktian pancasila. Komplitlah duga-menduga itu dilirikkan kepada saya. Saya sebut dilirik karena mereka sama sekali tak menuduh saya, namun sistem tanda yang terbangun menunjukkan kedekatan dengan saya.

Intinya dalam kabar melalui sms berantai tersebut disebutkan bahwa terdapat seorang pengajar di fakultas saya yang mengajarkan psikologi berbasis marxisme dan dalam kuliahnya pengajar tersebut berteriak-teriak dan meneriakkan yel-yel hidup PKI. Dalam sms juga disebutkan bahwa dosen ybs berdalih bahwa psikologi berbasis marxisme telah dirumuskan dalam kurikulum Diknas. SMS tersebut meminta rektor untuk mendeteksi. Saya tertawa nyinyir dengan kebodohan berita itu. Saya berusaha tak mempedulikannya, walau dalam hati saya dongkol, karena efeknya orang-orang pasti akan “melirik” saya. Apapun tak bisa disalahkan bila lirikan orang-orang mengarah kepada saya yang fresh 2 bulan baru datang dari Rusia.

Keesokan harinya, 3 oktober 2011, saya bertemu dengan salah satu pejabat tinggi di institusi saya dan juga pimpinan fakultas yang meminta klarifikasi langsung dari saya. Pertanyaan kolega datang satu persatu kepada saya. Sorenya kemudian diadakan rapat kepada seluruh dosen yang mengajar minggu lalu. Mereka dimintai keterangan tentang kegiatan mengajar minggu lalu. Hal ini penting sebelum institusi mengklarifikasi berita yang dianggap telah mencemarkan nama baiknya. Tak ada satupun dari mereka yang menghakimi walaupun mereka mau tau mau “melirik” saya, mengingat yang telah saya sampaikan di atas.

Yang menjadi masalah besar sebenarnya bukan pada kajian ilmiahnya namun lebih kepada peneriakan yel-yel hidup PKI. Saya sekali lagi menegaskan kepada mereka bahwa saya adalah pengajar dan bukanlah propagandis yang mengajar bak orasi di tengah demonstrasi. Tak ada untungnya buat saya menjadi seorang propagandis komunis yang di tempat asalnya sendiri sudah mati dan hanya tinggal menjadi suvenir berwujud topi dan gantungan kuci.

Saya sangat memahami asosiasi awal yang terbentuk yang ditujukan kepada saya ketika pertama kali mereka mendengarkan berita ini. Wajar bahkan sangat wajar. Saya juga yakin tak ada satupun orang fakultas yang tidak percaya dengan saya. Hanya saja referensi yang mereka punyai mau tak mau mendekatkan saya sebagai pihak yang memang harus dilirik. Saya cenderung lebih mempunyai kedekatan untuk dilirik dibanding dengan yang lain.

Saya bersyukur dengan kepercayaan penuh bahwa saya tak mungkin bekerja bak seorang ideolog dan propagandis. Mereka percaya dengan integritas ilmiah saya dan juga memberikan dukungan moral andai benar ternyata saya adalah pihak yang tertuduh oleh si pengirim berita pertama.

Rapat berjalan cukup seru karena efek berita konon sudah menjalar ke luar kampus. Seorang guru besar yang juga suami mantan menteri di kabinet Indonesia bersatu menanyakan kebenaran berita ini kepada seorang dosen senior di kampus. Konon bahkan berita sudah sampai pada lembaga yang mengurusi urusan halal dan haram di Indonesia dan juga ke tangan petinggi di Diknas.

Satu persatu kawan-kawan yang hadir di ruang rapat berusaha untuk melacak siapa sebenarnya penyebar berita pertama dan ditemukanlah si penyebar berita adalah orang yang berinisial Z. Z seorang pimpinan LSM yang bisa dikatakan cukup besar.

Kemudian ditelponlah Z oleh pimpinan fakultas untuk diklarifikasi tentang berita tersebut. Kami peserta rapat tetap di ruangan sehingga bisa mendengar pembicaraan antara Z dan pimpinan fakultas. Dan disitulah kedongkolan memuncak. Berita dan isu yang sudah sampai ke orang-orang atas dan keluar di masyarakat luas ini dimentahkan begitu saja oleh Z. Z dengan mudahnya bilang, “itu bukan psikologi tapi itu FISIP”. Ditegaskan bahwa pimpinan fakultas sudah pontang-panting untuk klarifikasi soal berita yang sudah terlanjur tersebar di masyarakat luas. Tanpa permintaan maaf Z hanya berkata “Ya biar fakultas anda gak ketularan”. Lalu ditanya lagi darimana Z mendengar berita tersebut. “Dari mahasiswa”. “Mahasiswa mana?” “Mahasiswa Akuntansi”. “Loh kok mahasiswa Akuntansi bisa kuliah di FISIP? “Kuliah umum Pak”. Disitulah kemudian pembicaraan perlahan-lahan berakhir.

Huffff… lelah. Coba lihat bagaimana kalang kabutnya pimpinan fakultas dan universitas menanggapi berita ini. Wajar kalau kalang kabut karena berita sudah terlanjur meluas. Begitu sia-sianya energi negatif saya keluar dan berimajinasi macam-macam dan menghubung-hubungkan banyak hal atas lirikan rekan-rekan sejawat. Begitu menyesatkannya berita ini, sehingga kawan-kawan baik saya, mau tak mau melirik saya karena kasus ini. Tapi apalah daya, berita HOAX mau tak mau harus ditanggapi karena terlanjur menyebar keluar. Apapun efek berita HOAX bisa dijadikan kebenaran umum di tengah cepatnya arus teknologi informasi seperti sekarang ini. Apalagi sumbernya adalah seorang pimpinan LSM yang punya jaringan luas kesana kemari.

Apapun banyak pelajaran berharga hari ini. Dan pastinya tetap ada satu hal yang terbersit dalam pikiran saya. Di jaman seperti sekarang ini masih saja laku isu ‘hantu’ dijual. Heran. Masih ada saja orang gembar-gembor bahaya laten. Pak Z ingatlah kata-kata Pak Nas disaat penguburan pahlawan revolusi. “Ini adalah fitnah yang keji”

 

9 Comments

  1. Ketika aku mendapat kabar ini rasanya mau tertawa sekaligus miris
    Masih begitu lekatnya ketakutan yang diciptakan oleh Soeharto di masa lalu
    Sebuah sms yang tidak jelas asal-usulnya bisa menjadi berita besar

  2. temyata sudah menjadi gantungan kunci dan topi ya mas… di indonesia, banyak anak muda yang pake asesoris (mulai baju, kaos, topi, kupluk, jaket) lambang bintang ernesto guevara (Che) juga… entah mereka paham atau tidak siapa orang itu

  3. tantangan untuk semua mahasiswa Indonesia yang sedang/pernah belajar di Rusia…….yaitu mengedukasi masyarakat.

  4. hahaha how shame moron you are Mr. Z 🙂
    mas iman: iya setuju 🙂

  5. semangat terus mas!
    sudah saatnya menyadarkan untuk lebih terbuka pada banyak hal, karena kalau tidak, kita akan terus terkungkung pada “hantu-hantu” kenyamanan masa lalu

  6. Aku akan berdiri di depanmu jadi tameng kalo ada apa2, sopo Z itu ?, njaluk diantemi ta ?

  7. eling pas aku pisui awakmu nang pertelon wapo Di?
    piye perasaanmu pas iku?

  8. the best friend-da-da! :) says:

    samoe smeshnoe, chto stali iskat vinovatogo – rasprostranitelya sluha… A delo to v soznanii obshestva, kotoroe klyuet na nazivku 1965 goda… Borodatii anecdot!!! 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*