Memoir

mereka yang terlupa

Selasa, 10 Januari 2011, ruangan yang diisi kurang lebih 10 orang dosen Fakultas Psikologi dibuat bergidik dengan kehadiran salah seorang alumni. Ini bukan seorang alumni yang menjadi business man hebat dan kaya, bukan juga alumni yang menjadi general manager di perusahaan multinasional. Dia hanyalah alumni muda yang mau berkeringat dengan menjadi pendidik di pedalaman Lampung, tepatnya di daerah Tulang Bawang barat. Asti atau lengkapnya Granasti Aprilia, alumni Fakultas Psikologi UA angkatan 2006, nampaknya mempunyai jalan yang berbeda dari kebanyakan rekan sebayanya untuk mengabdikan diri pada masyarakatnya. Ia bergabung dengan Program Indonesia Mengajar bentukan Anis Baswedan tahun 2010.

Kami yang paginya baru saja berdebat dan berbicara di rapat soal active teaching (salah satu teknologi pendidikan yang berkembang di barat sana untuk kami terapkan dalam aktivitas belajar mahasiswa) dibuat sedikit tertampar dengan cerita yang penuh sahaja dari sudut tulang bawang barat. Tak menyangka bahwa segala fasilitas yang kita punya di kampus dan juga perdebatan soal kecanggihan metode pembelajaran di kampus ini ternyata masih begitu jauh dan jauh dari realitas Indonesia.

Apa yang membuat kami dalam ruangan itu menjadi merinding, menangis, terharu dan bergidik, adalah karena realitas yang dihadirkan oleh Asti adalah realitas sederhana yang asing. Mungkin kita pernah mendengar, tapi sebagian dari kita tak pernah merasakannya. Apa yang diceritakannya bukanlah teori pendidikan yang kering inspirasi, bukan pula pekikan kata “peduli” yang sifatnya politis dan populis. Ia hadir justru dengan pengalaman langsung yang disampaikan secara sederhana akan kesederhanaan hidup di pelosok sana. Realitas itu cukup menghadirkan makna dan badai di dada para dosen yang hadir di ruangan itu.

Aku sendiri dibuat tercenung. Sejauh ini kulihat mahasiswaku adalah mahasiswa yang mampu dan penuh cita-cita, namun aku tak pernah tahu seberapa mampu mereka bersikap sahaja dalam hidupnya. Seberapa mampu mereka menyadari tentang realitas yang ada di sekelilingnya.  Kita melihat gemerlap Ibu kota Jakarta. Kita hidup dalam hirup pikuk kota besar Surabaya. Kita mendengar keriuhan Makassar yang kian metropolis. Sementara Jarak Tulang Bawang – Jakarta tak sejauh jarak Jakarta –Surabaya, namun kesenjangan yang ada bagai bumi dan langit dalam banyak hal. Guru yang tak produktif, metode yang asal-asalan, sekolah yang ala kadarnya. Bahkan aku baru tahu bahwa cita cita mereka yang ada di pelosok Tulang Bawang sana hanyalah menjadi TKW dan pembantu di Jakarta. Ironi disaat para anak kelas menengah di kota ditantang untuk menggantungkan cita-citanya setinggi langit, namun sebagian dari masyarakat kita di pelosok hanya ingin menjadi kacung saja.

Mungkin kita sedang menjajah bangsa sendiri. Mungkin kita tak sadar sedang mengimitasi kolonialisme Belanda di jaman dulu yang mengambil semua kekayaan untuk membangun dam-dam raksasa di negerinya. Kita dibuat asing dengan bangsa kita sendiri, karena keseharian kita hanya bergelut dengan orang-orang kelas menengah dengan logika kepentingannya. Logika dan realitas mereka yang hidup di pelosok adalah hal yang tak terbayang, jarang hadir, atau bila hadir akan mudah dilupakan karena bukan prioritas dan bertentangan dengan logika hidup survive di kalangan kelas menengah. Kita mungkin adalah bagian dari pihak yang tidak adil. Kita telah membiarkan pemiskinan dan kesenjangan itu tetap ada, dan memanfaatkan kesenjangan dengan menjadikan mereka sekedar pembantu yang bisa disuruh melakukan apa saja.  Soal logika feodalisme pembantu dan majikan pun kita tak sadar masih mempertahankannya.

Berkali-kali Asti ditanya soal inspirasi, dengan gaya bersahaja Asti menjawab, “sejujurnya saya tak banyak memberi apa-apa disana, namun justru sebaliknya ia banyak mendapat sesuatu dari warga tulang bawang barat”. Aku sendiri menyadari apa yang didapat Asti dari Tulang Bawang barat adalah teguran kecil untuk mau menunduk dan tak mendongak. Wadek III meminta Asti untuk berbagi pengalamannya kepada alumni, dan aku meminta asti untuk menjejakkan pengalamannya dengan menulis.  Apapun penyampaian realitas kecil yang tak menggurui dan dengan gayanya yang begitu sederhana membuat semua orang di ruangan merasa bangga setidaknya pernah menjadi sedikit bagian kecil yang mendidik Asti. Benar semboyan Indonesia mengajar, “Berhenti mengecam kegelapan. Saatnya nyalakan lilin.” Semoga Asti tetap dapat memberi untuk negeri ini dan rendah hati. Dan semoga kita semua dapat berbuat sesuatu untuk membebaskan diri kita sendiri.

 

Foto : http://vibizdaily.com/detail/bisnis/2010/02/11/bpsilo_17_juta_pekerja_anak_di_indonesia

9 Comments

  1. Tertegun atas kalimat anda “Soal logika feodalisme pembantu dan majikan pun kita tak sadar masih mempertahankannya.”

  2. mas Ardi, ini apa mbak Granasti yang orangnya chubby dan pernah ngajar di TK Ceria ya? kalo ya, beliau angkatan 2004.
    waah, tak sabar pengen denger ceritanya ttg pengalaman mengajar di Lampung *ditunggu tulisan/ bukunya ya mbak Asti* 🙂

    • sangat bagus, tapi permasalahannya saya laadah orang pemarah, memang saya tidak berada pada lingkungan yang selalu memicu kemarahan saya, namun sometimes saya tidak sadar kalau saya dalam keadaan marah bagaimana mengkontrolnya? terimakasih ..

  3. Anak itu, walaupun saya gak kenal sepertinya bentuk dirimu yg ekstreem ya di, kamu bisa saja menikmati kenyamanan hidup si ibukota berikut backup networking keluarga di jkt, tapi lebih memilih ke-hidup-an sederhana di surabaya. Mungkin dia dan kamu lebih berani menjadi diri sendiri daripada saya misalnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*