Memoir

Omnia Vanitas di Pilpres 2014

Pagi ini, dalam hitungan jam, saya akan memilih presiden RI. Siapapun presiden terpilih saya rela mengikhlaskan dan akan memberi kesempatan. Sebagaimana manusia, politik tak pernah benar benar PUTIH dan juga tak pernah benar-benar HITAM.  Sebagaimana tak ada yang pernah benar-benar tahu bagaimana kesejatian dan kebenaran selain interpretasi realitas yang berseliweran yang dicerap indera sendiri, maka segala sesuatu yang berseliweran di media massa dan sosial media tentang kandidat bukanlah fakta, apalagi yang sudah ditunggangi oleh angle dan kepentingan.

Karena manusia TERBATAS dalam mengenal hakikat, maka menuduh yang BERBEDA dan tak sependapat adalah HINA, BURUK, dan BODOH adalah kesombongan. Bila Mark Twain bilang “Whenever you find yourself on the side of the majority, it is time to pause and reflect.” Saya sendiri percaya masalah merefleksikan bukanlah terkait mayoritas atau bukan, namun kapanpun saya merasa benar, saya harus merenungkan kebenaran yang saya yakini di posisi yang berbeda. Karena bila tidak, saya telah pongah dan terperangkap pada arogansi membenarkan diri sendiri dengan menghinakan atau menyetankan yang lain.  Saya ingat kata, Al Pacino di film devil Advocate, “vanity is definitely satan favourite sin”

Apapun, mereka yang 180 derajad berbeda kepentingan atau bahkan yang ingin membredel cara berpikir tertentu, bagaimanapun adalah masih saudara yang juga paling tidak punya rasa cinta dan hak untuk hidup.

Apapun hasilnya besok, pastinya, bila suatu saat kebijakannya baik, saya tak sungkan untuk mendukung, Jika kebijakannya buruk, saya tak segan mengkritisi. Namun jika kebijakannya menindas, saya tak ragu untuk melawan. Semoga kita semua bisa menjadi teladan sederhana kemanusiaan dengan MENGHARGAI dan TAK SINIS dengan apapun preferensi orang.  Semoga besok adalah tanda bahwa Indonesia adalah bangsa yang matang dan berjiwa besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*