Articles

Manusia yang Rasional dan Terasing (3)

Jalan spiritualitas dalam Psikologi

Kehadiran dan peran psikologi modern sendiri adalah manifestasi dari prinsip-prinsip adaptasi manusia dalam menghadapi ide renaissance yang berubah seiring dengan berjalannya waktu. Prinsip survival of the fittest dan struggle forexistence adalah spirit baru dalam psikologi modern untuk memahami manusia sebagai objek ilmu. Freud mengajarkan eros dan thanatos sebagai bentuk instingtif adaptif manusia terhadap lingkungan sekitarnya. Begitu juga Konrad Lorenz yang mengatakan bahwa perilaku agresif lebih merupakan faktor biologis untuk mempertahankan diri (Fromm, 2000, hal 8). Behaviourisme mempertegas haluannya dalam memahami overt behavior seseorang dalam beradaptasi dengan stimulus-stimulus di luar diri. Materialisme dan spirit Darwinian dikawinkan untuk kemudian dijadikan spirit pertumbuhan psikologi dalam memahami manusia. Dari titik tolak ini jiwa yang abstrak menjadi hal yang diabaikan dalam pemenuhan kebutuhan manusia modern. Manusia hanya dipahami semata makhluk adaptif.

Fenomena sejarah menunjukkan bahwa kelahiran psikologi di Jerman dipertegas dengan kelahiran fungsionalisme di Amerika (yang kemudian berimbas pula dalam denyut nadi psikologi di Indonesia) yang berkembang dengan prinsip-prinsip adaptasi evolutif Darwinian dan Galtonian. Psikologi dikatakan seharusnya tak berurusan dengan makna-makna kontemplatif. Makna-makna kontemplatif adalah ranah filsafat yang tak berkontribusi apapun terhadap kemajuan manusia. Psikologi modern larut dalam fenomenalisme sehingga yang tak tampak hanyalah mitos. Jiwa, harmoni, dan spiritualitas adalah kualitas yang berada dalam misteri dan tak tergapai dalam obyektivitas ilmu positif. Psyche yang tak tercerap indera dan berada dalam wilayah abstrak seakan berada dalam keranjang sampah modernisme.

Ontologi, epistemologi dan metodologi ilmu mau tak mau harus beralih pada sifat-sifat yang fungsional dan tampak oleh indera dalam adaptasi manusia di era industri yang menuntut produktivitas ekonomis dan era positivistik yang materialistik dan mekanistik. Bahkan ilmuwan mau tak mau harus memilih, demi eksistensinya dalam ranah ilmiah, bahwa psikologi harus memasuki ranah praktis untuk membantu manusia yang “sakit” hingga sembuh dan menjadi efektif dan efisien dalam rangka adaptasinya dengan industri-industri modern. C.A Ruckmick menuliskan (dalam Schults & Schultz, 2000) bahwa pada tahun 1912 para ahli psikologi di Amerika Serikat mempunyai self-esteem yang rendah dikarenakan pendidikan yang minim anggaran dan gaji yang rendah dari pengajarnya. Satu-satunya jalan untuk bertahan adalah dengan menjadikan psikologi empiris mempunyai aplikasi praktis dalam ranah bisnis. Bisnis pendidikan yang berkembang ketika itu menjadikan psikologi berkesempatan untuk menyatakan diri sebagai ilmu praktis dalam ranah pendidikan (Schults & Schultz, 2000).

Dari hal tersebut diatas terlihat bahwa kehadiran psikologi sebagai ilmu praktis lebih merupakan proses struggle for the existence atas zeitgeist industrialisasi yang ada ketika itu. Psikologi hadir menjadi praktis bukan karena kebutuhan masyarakat namun dikarenakan eksistensi psikolog dan psikologi yang terancam dan mau tak mau harus mengabdikan diri pada industrialisasi masif di Amerika Serikat. Psikologi yang awalnya lahir di Jerman di akhir abad 19 hanya sekedar manifestasi dari tantangan terhadap positivisme ilmu-ilmu alam, tiba-tiba berubah menjadi ilmu yang mau tak mau berorientasi pada dominasi kapital demi kelanggengan eksistensinya.

Psikologi yang menikah dengan kepentingan bisnis ini mau tak mau sibuk berkutat dengan perilaku-perilaku mikro sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pemilik modal. Aspek makro yang patologis dan menjadi lokus manusia modern hidup dan berinteraksi tak sadar diabaikan. Aspek modernitas yang penuh dengan tuntutan akan kecepatan, ketangkasan, produksi, dan kewajiban-kewajiban kapital melahirkan konstruksi-konstruksi teoritik baru yang merubah gaya hidup masyarakat yang mau tak mau harus produktif. Disaat yang sama psikologi hadir untuk menormalisasi manusia agar selalu siap terhadap tantangan industri, namun yang tak disadari bahwa tantangan kapital saat ini tak mengijinkan pilihan-pilihan bebas pada individu untuk dapat berkehendak sesuai dengan pilihan hati nuraninya. Produktif, efisien, dan efektif dalam pemenuhan objek yang bersifat material adalah cara yang mau tak mau harus diambil oleh manusia modern untuk bertahan.

Michael Harner mengatakan bahwa psikologi dalam industri modern telah terjebak dalam dua bias: yaitu bias kognisentris dan bias etnosentris (biasa disebut sebagai pragmasentris). Etnosentris dalam hal ini mempercayai bahwa spiritualitas merupakan hal yang primitif, tahayul dan mengabaikan fakta ilmiah. Bagaimanapun materi adalah yang utama dalam kehidupan masyarakat. Kehidupan masyarakat digerakkan oleh kemajuan-kemajuan yang bersifat pencapaian-pencapaian material. Kekayaan atau popularitas sosial tertentu adalah mimpi yang dijual oleh spirit materialisme dalam modernitas. Pengalaman spiritual langsung sebagai bentuk dari kesadaran kolektif dan figur archetype dilihat sebagai produk patologis dari otak (Grof, 2008). Sementara bias kognisentris dalam psikologi modern adalah terkait dengan kecenderungan untuk mengamati gejala-gejala kesadaran yang terlihat, sementara aspek-aspek sub-conscious yang bersifat transpersonal dan spiritual cenderung diabaikan. Aspek self harmony dan holotropik sebagaimana yang diperkenalkan oleh Grof merupakan hal yang tak terjangkau dalam ranah materialisme dan empirisme pengetahuan.

Grof dalam kritiknya terhadap aspek materialisme psikologi modern mengilustrasikan bahwa “beberapa literatur psikiatris justru memberikan diagnosis klinis para tokoh spiritual seperti: St. Anthony yang mengalami Schyzophren, St. John yang mengalami degeneratif herediter, St. Teresa dari Avila dianggap mengalami hysteria psychotic parah, pengalaman mistik Muhammad yang dianggap sebagai epilepsi, bahkan pengalaman Jesus dan Ramakhrisna yang dianggap mengidap psikosis” (Grof, 2008). Menariknya disaat psikologi modern menganggap bahwa kehidupan spiritualitas kuno dan mitos keimanan masyarakat dengan label psikopatologis namun para pelaku yang bertanggung jawab terhadap dehumanisasi dan eksploitasi manusia dan kerusakan alam justru jarang terkena label-label patologis. Para ahli pemuja visi kemajuan modernitas sebagai sebagai efek nilai dari industrialisasi justru jarang melabel patologis mereka yang bertanggung jawab terhadap pemiskinan manusia, pelaku pembalakan hutan, atau eksploitasi alam besar-besaran, pelaku korupsi uang negara, atau pelaku perlombaan senjata nuklir.

Psikologi yang demikian scientific minded dan materialistik berdampak pada kegelisahan-kegelisahan baru atas aspek spiritualitas yang tak tersentuh. Pemberontakan psikologi sebagai ilmu empiris yang mengedepankan aspek fenomenalisme, reduksionisme, dan naturalisme melahirkan gerakan-gerakan baru yang menekankan pada aspek transendensi dan spiritualitas  manusia sebagaimana ditunjukkan oleh gerakan-gerakan dalam psikologi analitik Carl Gustav Jung, psikologi transpersonal, dan gerakan parapsikologi.

Apapun harus diakui bahwa psikologi modern secara rasional memang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap peradaban umat manusia, namun sekaligus juga mereduksi dan mengerdilkan aspek pengalaman manusia seperti spiritualitas dan juga psyche yang tak terjamah oleh ranah inderawi. Hal ini berakibat pada eksploitasi dan keringnya jiwa manusia dalam memahami diri dan sekitarnya. Fyodor Dostoevskiy dalam novelnya Zapiski iz podpolya (Beltrame, 2007) menegaskan bahwa kebodohan orang modern justru terletak pada penempatan rasio diatas segala-segalanya.

Dengan menempatkan rasio sebagai dasar atas kemanusiaan sesungguhnya mereka telah kehilangan kemanusiaannya. Kesadaran akan subjek yang rasional dan otonom sebenarnya tak lebih dari ilusi belaka, karena sesungguhnya rasionalisasi atas subjek yang otonom tak pernah keluar dari sebuah sistem ideologi dan justru melupakan intuisi yang tak dapat dicapai oleh pengetahuan indrawi untuk pencapaian kebenaran. Intuisilah yang mengarahkan manusia pada spiritualitas antara dirinya dan alam serta harmonisasi antara diri dan apapun yang ada disekitarnya. Intuisilah yang seharusnya menyebabkan manusia masuk dalam suara-suara terdalam untuk mengenali dirinya dan juga mengenali obyek di sekitarnya sebagai bagian dari dirinya. Manusia bagaimanapun bukanlah semata-mata fisik dan psikologis, namun juga terdapat hakikat spiritualitas yang berada dalam dirinya.

Ketertarikan beberapa ilmuwan besar seperti Jung, Maslow, dan Grov terhadap pentingnya menoleh kembali pada falsafah Timur bukan terjadi secara tiba-tiba dan tanpa alasan. Mereka menyadari bahwa rasionalitas Barat dianggap terlampau kering dalam menjawab problema modernitas yang demikian kompleks. Falsafah Timur ibarat harta karun yang penuh dengan emas untuk mengisi kekosongan jiwa-jiwa yang dibebani oleh rasionalitas. Kajian dan metode psikosintesis yang diperkenalkan oleh Roberto Assagioli yang mengedepankan aspek spiritualitas Timur selain aspek psikologis dan fisik mulai menjadi kajian yang berkembang di Barat. Beberapa ilmuwan psikologi barat bahkan dengan berani berinisiatif untuk memulai kajian tentang pengalaman mistik, meditasi, yoga, kesadaran kosmis, dan pengalaman trans. Hal ini semestinya dapat dijadikan momentum untuk menggalakkan riset dan kajian di luar mainstream yang berbasis pada kearifan lokal yang menonjolkan hakikat manusia yang integral diantara psyche dengan lingkungan kosmiknya. Indonesia sendiri bukanlah negara yang miskin dengan tradisi dan falsafah yang mengajarkan pentingnya kebersatuan antara psyche sebagai pengalaman makrokosmos dan mikrokosmos.

Ada sedikit kekhawatiran, ketika saatnya nanti tiba, justru ilmuwan psikologi di Indonesia akan menjadi ilmuwan yang terlambat bertepuk tangan sekaligus tak pernah berkeringat dalam menggali kekayaan falsafah hidupnya sendiri. Ibarat karya sastra jawa, Serat Centhini, yang kaya akan pandangan filosofis Timur namun terasing di negeri sendiri dan terlambat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ironinya adalah peneliti Prancis Elizabeth D. Inandiak bahkan lebih dulu mengkaji dan menterjemahkan Serat Centhini ke dalam bahasa Prancis. Bagaimanapun pendidikan psikologi di Indonesia sudah selayaknya mencari satu upaya sistematis dengan memberikan ruang yang lebih besar pada kajian-kajian di luar mainstream yang berakar dan berpijak pada kearifan lokal yang dahulu dituduh tak masuk akal karena tak empiris dan tak rasional.

Daftar Bacaan

  1. Beltrame F. (2007). O Paradoksalnom mislenii “Podpolnogo Celoveka”. Dostoevskiy, Materiali i Isledovaniya.?. 18. — St. Peterburg: Nauka, hal 135—142.
  2. Dostoevskiy, F.M (2009) Byesi. St. Peterburg : Azbuka Klassika. halaman 278. (Buku asli dipublikasikan pada 1873)
  3. Eliot, T.S. (1934) ‘Choruses from “The Rock”, dalam Bass, D.C. (2010). Practicing Our Faith: A Way of Life for a Searching People.John Wiley and Sons, halaman 65
  4. Grof, S. (2008). Brief History of Transpersonal psychology. International Journal of Transpersonal Psychology. Vol 27: 46-54
  5. Kompas (2011, 20 Oktober). Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis.

Diunduh 30 Oktober 2011 dari http://internasional.kompas.com/read/2011/10/20/0953167/Benarkah.Masyarakat.China.Jadi.Apatis.

  1. Schultz, D.P., Schultz., S.E., (2000). History and system of Psychology.Seventh Edition. Wadsworth Thomson Learning.
  2. Williamson, L. (2011, September 5). South Korea Suicide tolls doubles over a decade. Diunduh tanggal 25 Desember 2011 dari http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-14784776
  3. World Life Expectancy (2010). Health profile: Indonesia. Diunduh tanggal 25 Desember 2011 dari http://www.worldlifeexpectancy.com/country-health-profile/indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*