Articles

Pilkada dan Jejak Tionghoa

Pilkada DKI ini ramai ya. Saya bukan orang yang ngefans dengan Ahok. Biasa saja. Makanya jarang komentar dengan berita-berita Pilkada. Tapi gatal juga lama-lama untuk komentar soal Pilkada DKI. Sekali lagi ini bukan masalah pro-ahok atau tidak, tapi isu rasial di dalamnya, yang akhirnya menghiasi laman Facebook saya. Seringkali berita yang dibagi konyol dan lucu. Mari kita pisahkan tulisan ini dengan Ahok. Mari berfokus ke berita yang bersliweran di laman sosial media.

Kemarin dan hari ini, ada beberapa beberapa rekan di newsfeed membagikan laman situs radikal. Headlinenya adalah China akan berperang dengan agama tertentu –tidak saya sebut-, maka bersiaplah. Ini saya sebut kebodohan luar biasa! Orang dengan ras tionghoa –yang anda benci- bisa jadi punya agama yang anda imani. Anda tahu siapa itu Oei Tjeng Hien? Coba cari profil salah satu tokoh Muhammadiyah itu! Lucunya di kolom komentar di media radikal tersebut, semua komentar yang menggelinding adalah berbau perang melawan ras tersebut. Sakit! Dan beberapa menit lalu, ada juga status rekan yang tampak di newsfeed, yang menuliskan orang China peranakan mending pulang kembali ke Tiongkok.

Sedikit sejarah. Anda tahu surat kabar mana yang pertama kali menyebarluaskan syair Indonesia Raya? Sin Po. Coba lihat lagi surat kabar mana pula yang menyuarakan nasionalisme Indonesia, saat Bung Karno dan tokoh-tokoh nasionalis dipenjara di akhir tahun 20an? Sin Tit Po. Anda tahu dimana A.R. Baswedan (kakek Anis Baswedan, yang Arab), bekerja dan gigih membela kemerdekaan Indonesia serta mengkritik golongan arab yang setia pada tanah airnya dibandingkan Indonesia? Di Harian Sin Tit Po juga. Siapa mentor jurnalistik A.R. Baswedan? Liem Koen Hian. Terlepas paska kemerdekaan perjuangan Koen Hian dikecilkan setelah berjasa banyak untuk pergerakan Indonesia. Anda mungkin baru tahu bahkan dalam perlawanan arek-arek suroboyo tahun 1945 ada orang Tionghoa kelahiran Bangka yang memprakarsai perobekan bendera biru Belanda, namun peranan dan jasanya dikecilkan.

Saya bukan ahli sejarah, tapi hobi dengan sejarah, (terutama sejarah aliran psikologi. 😀 – semoga tidak ada yang pernah kena batunya 😀 😀). Cobalah bagi para pembagi berita di fanpages media radikal untuk sesekali piknik dan timbang-timbang bacaan sejarah anda. Jangan bertumpu pada fanpage tapi malas untuk ngeklik laman lain. Banyak berbagai alternatif buku sejarah yang anda bisa baca di google book, artikel sejarah yang ditulis majalah historia, atau ditulis cendekiawan sejarah yang bersliweran di dunia maya. Disana anda akan liat daftar pejuang yang ikut berperang dan membangun Indonesia yang bukan hanya dari ras kebanggaan anda. Ini penting, sebelum menyumpah atau meminta etnis lain keluar dari Indonesia. Sulit lho menjadi minoritas, bergerak dicibir, diam dan mendukungpun seringkali dianggap oportunis.

Bagaimana ya mengubah orang yang hobbinya hanya baca status fanpage tapi malas double check. Padahal di era internet sebenarnya orang mudah untuk melakukan recheck atas berita apapun. Hanya dengan one mouse click kita semua bisa mendapatkan berbagai macam sumber sehingga tidak mudah terjebak pada bias dan prasangka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*