Articles

Bernie dan Era Egalitarian

Dari penampakan media (entah aslinya benar atau tidak) terlihat bagaimana chaos, kebosanan, dan kelelahan sebagian orang US dengan politisi korup. Selain polarisasi politik yang paling tajam sejak 130 tahun (dan sepertinya memang ini keliatan paling seru), yang lebih menarik adalah kuatnya sokongan generasi milenial yang mendukung kandidat yang memunculkan isu-isu kesetaraan dengan bahasa sederhana yang kerap keluar ke ruang publik tanpa protokol formal. Kantong pendukung Bernie, misal bisa diprediksi dari daerah dimana banyak orang mudanya (antara usia 17-40 tahun).

Kata Marc Prensky generasi milenial adalah generasi digital (Digital Natives) yang lahir paska domestifikasi teknologi informasi, yang efeknya nggak cuma bikin orang melek informasi, tapi juga berdampak secara mental psikologis. Banyak perubahan secara mental gara-gara munculnya teknologi digital. Salah satu karakter yang menonjol adalah orang-orang ini melihat dunia secara egaliter atau cenderung tidak melihat masyarakat secara hierarkis. Saling ejek di medsos atau kolom komentar koran adalah hal biasa di era digital, tanpa peduli dan ngeliat status sosial lawan bicara di media online. Itu kenapa kandidat feodal dianggap memuakkan. Itu kenapa pula kandidat yang bisa memecah sekat hierarkis cenderung gampang disuka.

Suka nggak suka dengan tokoh yang saya sebut dibawah, tapi ini kejadiannya. Jokowi begitu populer karena sering muncul di ruang publik dan mendobrak sekat antar kelas. Ridwan Kamil disenangi karena bicara dengan bahasa santai yang memecah tradisi bahasa feodal penguasa. Ahok populer karena bahasanya spontan warung kopi “gue dan elo”. Andrzei Duda pun awalnya (sebelum pemilu) disenangi karena beberapa kali membaur dengan pemilihnya dan kerap muncul di ruang publik tanpa protokol. Obama populer karena gaya komunikasinya santai dan luwes habis. Bernie disenangi karena dia berbicara dengan bahasa yang mudah dan egaliter. Tak cuma di dunia politik, tapi juga di dunia pendidikan, pendidik bergaya egaliter akan gampang disuka.

Era politik saat ini adalah siapa yang bicara (baik itu verbal ataupun nonverbal) dengan bahasa egaliter yang memecah hierarki antar kelas. Semakin natural bahasa itu tampak, semakin tinggi popularitasnya. Siapa yang masih percaya bahwa pemimpin harus menunjukkan kelas ‘tinggi’nya dengan bikin orang lain munduk-munduk nyuwun sewu, maka siap-siap ditinggal dan gak laku.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*