Articles

Kesan pertama, Prasangka, dan Kita!

Warsawa, 10 Juli 2016, 12.34

Entah sudah berapa kali stereotype dan prejudice itu diteliti dalam ranah psikologi sosial. Banyaaak dan panjaang. Mulai dari bagaimana orang menilai orang lain berdasarkan penampilan terutama wajah, atau seberapa cepat orang memberikan penilaian bagaimana karakter orang yang baru saja dikenalnya. Riset menunjukkan cuma butuh  waktu 1/10 detik alias 100 milidetik untuk menilai orang lain berdasarkan kesan pertama (Lihat Willis & Todorov, 2006). Normal sebenarnya untuk kemudian menilai orang seperti itu, semua orang melakukannya. Otak kita terbiasa membuat shortcut untuk menilai manusia lain berdasarkan kategori-kategori persepsi umum.

Untuk sampai pada kesimpulan yang lebih kompleks, tentunya otak kita mesti bekerja lebih. Dan sayangnya dalam menilai orang lain, banyak  dari kita yang tak mau membuat otaknya sedikit bekerja lagi. Kita seringkali membiarkan otak digiring oleh penghakiman atas kesan pertama, dan penghakiman atas atribut-atribut sosial yang lain. Kita tak pernah diajari berjarak  bahkan tak mau berjarak dengan judgement yang sudah kita beri dalam menilai orang. Bila baru berkenalan dengan orang yang terkesan cengengesan di awal, dianggap orang itu terkutuk untuk selamanya dangkal dan tak punya kualitas untuk bisa serius dan bijaksana; atau bila berkenalan dengan orang yang berprofesi sebagai peneliti dengan bermacam-macam award, maka dianggap orang itu pintar dan seakan tak punya kualitas manusia lain yang bisa jadi lemah,  dalam situasi tertentu bisa punya sense of humor, atau bagaimana ia berjuang dalam profesi itu dengan ketekunan yang berkeringat dan berdarah-darah. Bila baru berkenalan dengan orang Padang maka langsung dihakimi bahwa orang Padang itu pelit. Padahal sejauh komunitas Padang yang saya temui, belum ada yang saya kenal pelit, beberapa orang Jawa yang saya kenal ada yang pelit juga. Orang bule pasti pintar, padahal yang pemalas juga banyaak. Belum tentu pula yang ateis tak bermoral dan yang beragama pasti bermoral. Tak menjamin pemilih Jokowi adalah progresif dan pemilih Prabowo adalah konservatif.

Beberapa ahli menganggap bahwa cara kita dalam menilai orang itu merupakan bagian dari survival instinct dan konsep diri. Manusia cenderung waspada terhadap ancaman dan hal-hal yang tidak atau baru diketahui. Itu kenapa otak kita seringkali membuat shortcut ketika berhadapan dengan ancaman dan hal baru. Donald Trump dan para kaum haters mentok di manapun –termasuk di Indonesia – yang seringkali membuat penghakiman terhadap kelompok lain, sebenarnya menunjukkan bagaimana survival instinct dirinya yang merasa terancam. Perasaan ancaman yang kemudian semena-mena direspon dengan penghakiman dan prasangka.

Survival instinct yang kerap merasa terancam dan berbentuk pada judgement negatif ini mencerminkan konsep diri yang negatif. Orang yang kerap memberikan komentar atas sifat-sifat negatif dan perilaku orang lain seringkali tanpa disadari adalah orang yang sangat cemas tentang sifat-sifat yang sama dalam diri mereka. Orang yang sudah nyaman tinggal di rumahnya sendiri, tak tertarik untuk berkomentar nyinyir dan agresif dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Untuk apa nyinyir, toh ia sudah betah di rumahnya. Sebaliknya orang yang fokus pada hal-hal buruk, ditaruh di tempat teraman dengan orang-orang terbaik pun tetap saja yang dilihat adalah hal buruk.  Jadi kalau kita sudah merasa aman dengan kepercayaan dan apapun yang kita punya, ribut-ribut menilai kepercayaan orang justru menunjukkan kita yang selalu merasa terancam dan tak nyaman dengan diri sendiri.

Judgement itu akan selalu ada dan tak akan pernah pergi dalam diri kita. Selama kita hidup, barangkali kita akan selalu menilai orang bahkan sepersekian detik ketika kita baru saja berinteraksi dengan orang lain. Namun sebagai manusia, kita punya kemampuan untuk mengelola dan berjarak dengan hal-hal yang mendorong kita dalam membuat kesimpulan dini akan siapapun dan apapun. Dan menilai baik bukanlah untuk siapa-siapa, tapi sebenarnya untuk kebahagiaan diri sendiri.

One Comment

  1. Namun melalui pengamatan terhadap perilakunya, kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilai orang tersebut.Ada anggapan bahwa elemen non-verbal dari perilaku merupakan refleksi yang paling akurat dari perasaan atau kondisi internal seseorang. Sementara itu, adanya kesamaan antara kita dengan orang yang kita ajak berkomunikasi akan mendorong rasa saling menyukai. Keadaan semacam ini akan membantu kita untuk merasa lebih nyaman untuk melanjutkan komunikasi. Menjelang pilgub atau pasca pilgub, kegagalan persepsi publik sangat rentan sekali “mendokrin” pikiran masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*