Memoir

Survive Belajar di Negeri-negeri Slavic?

Dalam seminggu ini saya diajak bertukar pengalaman oleh beberapa mahasiswa yang mungkin mulai tertekan dengan perkuliahan di Polandia yang memilih bahasa pengantar bahasa Polandia. Beberapa dari rekan-rekan tersebut bertanya, bagaimana saya bisa survive ketika kuliah di Rusia dahulu? Adakah tips dan trik untuk melewatinya? Seringkali saya bingung ketika ditanya bagaimana tips dan triknya. Saya kemudian hanya memberikan cerita yang saya tulis beberapa tahun lalu di http://ardinov.com/?p=238. Namun tampaknya cerita saya disana pun dianggap terlalu umum. Beberapa dari mereka menginginkan cerita yang lebih spesifik. Saya paham karena dalam situasi yang cemas, khawatir, dan tidak pasti, mereka butuh perbandingan cerita yang lebih pasti. Hal yang bisa dibandingkan akan memberikan nuansa yang pasti dan terukur sehingga beberapa mahasiswa yang sedang stress-stressnya bisa punya pegangan yang presisi. Masalahnya adakah yang presisi untuk esok hari yang belum terjadi terutama untuk setiap pengalaman yang berbeda?

Tidak ada pengalaman yang bisa dibandingkan antara orang per orang, termasuk pengalaman yang pernah saya ceritakan. Setiap orang punya pengalamannya sendiri, dan itu tidak terbandingkan satu dengan yang lain, karena perasaan, pikiran dan cara setiap orang dalam mengalami sesuatu berbeda dengan yang lain, bahkan apabila stimulusnya sama-pun tak bisa dirasakan sama bahkan oleh saudara kembar identik.

Ketika di Rusia dulu, saya memang ikut mengalami bagaimana stressnya kuliah di tahun pertama, mengalami ketakutan dan ketidakpastian nasib, mengalami pula bagaimana diri sendiri yang kadang ‘merasa’ tersisih di antara mahasiswa asli Rusia (apalagi saya adalah mahasiswa Asia berkulit berwarna satu-satunya), kadang agak berprasangka negatif pula dengan mereka, mengalami ketakutan dengan dosen, takut tidak bisa lulus, takut bagaimana bisa menyelesaikan tesis, pernah mengalami dimana ada satu dosen yang tidak pernah punya kontak mata dengan saya, pernah mengalami perasaan seperti seolah-olah direndahkan, dll.

Keadaan sulit dan penuh tekanan ini membuat kita sulit berpikir normal. Apa-apa yang baik jadi terlihat negatif. Gestur dan senyum teman sekelas pun bisa kita interpretasikan negatif bila kita sedang sensitif. Padahal bisa jadi prasangka negatif seperti direndahkan teman kita itu justru berawal dari pikiran kita dan bukan dari mereka. Support dosen pun tetap tidak bisa membohongi kecemasan tentang bagaimana kita bisa selamat sampai garis finish untuk menyelesaikan studi kita sendiri. Dalam keadaan yang penuh tekanan pikiran itu, sulit akhirnya kita bisa mengapresiasi hal kecil yang baik terhadap kita, karena semuanya tertutup dengan kecemasan.

Sekali lagi tidak ada tips dan trik cepat untuk melewatinya. Tidak ada buku “cara instan menjadi sufi.” Tidak ada buku “cara cepat menjadi filsuf.” Tidak ada buku soal “cara cepat menjadi ilmuwan.” Bila toh ada buku seperti itu, maka saya yakin itu buku komersil yang dangkal. Apalagi karakter setiap orang berbeda antara satu dengan yang lain, dan cara orang menjalani hidup berbeda antara satu dengan yang lain. Dan pastinya memang tak ada cara instan untuk menjadi apapun.

Namun mungkin ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan catatan bagaimana saya menjalani perkuliahan dulu. Barangkali catatan ini bisa sedikit meringankan tekanan kuliah rekan-rekan semua. Setidaknya membuat teman-teman merasa tidak sendiri. Ada banyak rekan-rekan di luar sana yang mengalami dan bisa melewatinya hingga akhir. Apapun catatan-catatan pokok ini tidak instan. Itu proses yang tidak habis selama saya menjalani kuliah– bahkan saya percaya ini adalah proses yang akan saya alami sepanjang hayat-.

Satu, berusaha tawakal. Berusaha semaksimal mungkin, tapi ikhlas dengan apapun hasilnya. Cuma ini yang bisa dilakukan. Orang lain seperti dosen, dan mahasiswa teman sekelas saya tidak berada dalam kontrol saya. Hal-hal yang bisa dalam kontrol saya adalah diri sendiri. Tawakal bukan merupakan pekerjaan satu dua malam. Ini adalah proses berkelanjutan sampai selesai kuliah –bahkan sepanjang hayat. Setelah habis semester ini, tantangannya adalah semester berikutnya. Pada semester berikutnya, dosennya berbeda, karakternya berbeda, tantangannya juga berbeda. Stress dan pressure konstan dialami. Tapi kemudian ada saat saya berpikir bahwa saya tidak usah terlalu cemas dengan besok yang belum dilewati, yang penting dijalani. Ada berapa banyak rekan-rekan disini yang masih ingat, waktu dulu kelas 3 SD naik ke kelas 4 SD, takut tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas 4 SD? Nah buktinya sekarang sudah jalan S2 malahan kan? Ada berapa banyak dulu rekan-rekan yang takut tidak bisa menyelesaikan skripsi waktu S1 sebelum menjalani proses pengerjaan skripsi? toh buktinya setelah dijalani rekan-rekan bisa selesai sarjana kan. Ada berapa banyak rekan-rekan yang pernah percaya bahwa rekan-rekan akan mendapatkan beasiswa Ignacy? Toh dapatkan? Percaya bahwa proses tawakal ini proses mengalahkan diri sendiri, yang dua tahun lagi bisa jadi hal yang paling indah yang dikenang dalam hidup karena rekan-rekan bisa melewatinya. Ini bukan cuma cerita buat diri sendiri tapi cerita heroik yang worth it diceritakan untuk anak-anak -kalau nanti sudah punya anak.

Yang kedua, jangan ingkari kesedihan, ketakutan, dan kecemasan. Ibarat bola semakin ditekan ke bawah maka pantulannya semakin tinggi. Semakin kita mengingkari dan melawan kecemasan ke dalam alam bawah sadar kita, semakin tinggi pula kecemasan itu. Ibarat kita semakin sakit hati dengan mantan dan berusaha melupakan mantan, maka semakin ingat kita dengan mantan. Atau semakin kita berusaha melawan kesendirian, semakin kita merasa kesepian. Semakin kita tidak menginginkan memikirkan apel berwarna merah, malah kita kepikiran dengan apel berwarna merah. Cara paling tepat -walau tidak instan- untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan adalah dengan menerima kecemasan. Untuk menerima kecemasan, kesedihan, dan ketakutan ini butuh latihan. Dan sampai hari ini saya masih terus berlatih dan sekali lagi ini pun saya anggap proses sepanjang hayat. Semua orang punya cara sendiri melatihnya. Gambaran bagaimana saya melatihnya saya tuliskan dengan empat paragraf di bawah. Mungkin seperti orang gila, tapi inilah yang saya lakukan.

Sebagaimana filosofi Zen, saya sendiri selalu mengibaratkan diri manusia sebenarnya terdiri dari beberapa wajah. Satu wajah yang ditampakkan pada dunia (e.g. wajah dari status sosial saya yang menunjukkan bahwa saya seorang ilmuwan, dimana orang lain melihatnya sebagai orang yang tekun); dua, wajah yang ditampakkan pada orang-orang terdekat (e.g. orang-orang dekat saya melihat saya orang yang struggle). Dan tiga, wajah dimana hanya diri saya sendiri yang tahu. Sebagaimanapun dunia atau orang lain menilai, cuma kita sendiri yang paling tahu wajah kita yang sesungguhnya. Kita yang sebenarnya paling tahu kita malas atau tekun. Kita yang paling tahu apakah kita ikhlas memberi orang atau tidak, terlepas mulut kita bicara ikhlas ke orang lain tapi hati kita yang paling tahu keikhlasan itu. Kita sendiri yang paling tahu soal kecemasan dan ketakutan, terlepas kita menunjukkan ke orang lain bahwa kita adalah berani. Kita pun bisa bilang bahwa kita tidak iri terhadap kesuksesan orang lain, tapi hanya hati kecil kita sendiri yang paling tahu bahwa kita iri atau tidak. Jangan abai dengan isi hati kecil hanya karena kita ingin mengesankan orang lain. Ada diri kita sendiri yang paling tahu siapa kita sesungguhnya, dan diri yang seperti ini perlu dipeluk dan diperhatikan.

Lantas apa hubungannya ini dengan menerima ketakutan dan kecemasan. Saya ambil contoh begini, ibarat jari tangan saya yang sakit dan luka tersayat silet, lantas saya mengabaikannya, “pokoknya tangan saya tidak boleh sakit.” Lah padahal sudah jelas tangan saya terluka, saya bukannya merawat tangan saya yang terluka, tapi saya malah teriak bahwa tangan saya nggak boleh sakit. Tangan yang sakit butuh dirawat, bukan diabaikan. Dengan menyadari bahwa kita sakit, maka kita memberi kesempatan tangan kita untuk sembuh dan pulih. Hubungannya dengan kecemasan dan ketakutan? Bila memang kita takut dan cemas, akui dan sadari pada diri sendiri –sekali lagi diri sendiri dan bukan malah woro woro ke orang lain melalui status Facebook, Path atau twitter-, bahwa memang kita sedang sakit dan cemas. Peluk dan pahami dalam-dalam dengan mengajak bicara dan berdialog dengan diri kita yang cemas dan takut, “Ardi apa kamu takut?” “Ya Aku takut” “Okey aku ngerti kalau kamu takut. So I will accompany you.” Atau misal kita dalam keadaan sedih, bahkan saking sedihnya tidak ada ungkapan kata yang bisa mengekspresikan rasa kesedihan itu, tidak ada teman yang kita anggap bisa merasakannya. Dalam situasi yang sedihnya seperti itu, siapa lagi yang kita bisa ajak bicara, tidak lain ya diri kita sendiri. Pahami hingga titik terdalam, lantas temani dia diri kita sendiri, “Ardi… kamu sedih?” “Iya aku sedih” “Okey I understand. So if you wanna cry, just cry. I will accompany you to cry.”

Seberapa banyak dari kita yang pernah peduli dengan diri kita sendiri dan wajah asli kita. Kebanyakan dari kita lebih sibuk untuk mengesankan orang lain. Padahal kesadaran dan penerimaan yang paling dalam dengan gejala-gejala psikologis kita sendiri itu jauh- jauh membuat diri kita lebih terkontrol. Tidak ada orang yang paling bisa memahami diri sendiri kecuali diri kita sendiri sebagai pihak yang merasakan dan mengalami. Bukan orang lain dan bukan sahabat Anda. Peluklah diri sendiri, bahkan hal-hal tergelap pun. Untuk memahaminya, dengarkan diri sendiri, dengarkan suara yang selama ini abai di dengarkan. Berteman dengan diri sendiri, sadari hal-hal yang kita tidak suka, yang membuat kita cemas, takut, dll. Temani sisi-sisi gelap ini agar sisi-sisi gelap ini punya teman, dan teman yang baik adalah diri sendiri. Bila hati kita takut, dan pikiran kita malah bersikeras untuk harus berani dan punya nyali, maka jangan abaikan hati kita yang takut, ajak pikiran kita yang maunya berani ini untuk menyelami hati yang takut. Sehingga hati yang takut ini tidak sendiri, tapi ia ditemani oleh pikiran kita yang selaras dan ingin memahami ketakutannya. Saya tidak tahu bagaimana untuk menyederhanakan kalimat saya ini, tapi itulah pengalaman personal yang saya alami. Ketika saya sudah tidak punya passion dan lelah mengerjakan tesis, Dialog pada diri sendiri ketika berada pada titik drop kurang lebih begini, “are you tired?” “Yes I am” “I’m so sorry to make you tired and neglecting your need” “Aku tapi sudah nggak kuat ngelanjutin. Sudah bosan” “Yes I know. I force you too much. But I can’t make it without you. You help me to reach this point. Thank you for helping me” etc etc dan panjang dialognya sampai kemudian biasanya diakhiri “Please help me again to finish this. I know we can make it. I know you will help me and won’t surrender yet.”

Lantas bila kita sudah bisa memahami dan memeluk diri sendiri, apa berarti kita jadi bisa terbebas dari rasa takut, cemas, dan sedih. Tentu tidak. Takut, cemas, dan sedih adalah bagian yang normal dari manusia. Manusiawi. Dengan menerima dan mengenali diri sendiri, kita jadi tahu mekanisme yang tepat untuk deal with it. Tahu dan kenali kondisi tubuh jika lelah, lalu beristirahatlah dan bukan malah melawannya dengan tidak memperbolehkan tubuh lelah, tubuh pun butuh rebah, yang terpenting setelahnya kita tidak terpikir untuk berhenti berjalan lagi. Begitu juga dengan kondisi psikis (e.g. cemas, sedih, takut), tahulah kondisi ketika itu terjadi, beri mereka kesempatan untuk healing sebagaimana tubuh yang lelah butuh beristirahat, namun tetap esok hari kita kembali berjuang lagi.

Yang ketiga (setelah tawakal dan menerima diri sendiri) adalah berusaha semaksimal mungkin untuk punya gratitude feeling. Beban sekolah yang berat ini membuat kita kadang lupa untuk menikmati hal-hal kecil. Sekolah S2 di negeri Slavic dengan bahasa lokal itu berat setengah mati di pikiran dan juga di hati. Tapi hanya fokus pada hal berat akan membuat kita lupa bahwa kondisi kita sebenarnya masih lumayan bagus karena diberi pikiran yang waras dan punya logika yang jalan. Bayangkan misal besok rekan-rekan disini tiba-tiba divonis sakit ambeien atau hemoroid stadium tiga akan ke stadium empat sehingga pendarahan di anus tanpa henti. Untuk mengatasinya, misal dokter mengatakan harus dioperasi melalui pemotongan pembuluh darah vena yang melebar. Dokter mengatakan sakit pasca operasi akan dirasakan dua minggu. Bayangkan sakit setengah mati setiap pagi ketika buang air besar selama dua minggu. Kita seringkali lupa bahwa buang air besar itu aslinya nikmat, tapi kita tidak pernah menyadarinya. Kita baru sadar pada waktu sakit pasca operasi ambeien datang bahwa ada hal kecil sesimpel buang air besar yang nikmatnya luaaaaaar biasa. Itu kenapa sakit itu seringkali berkah dan rejeki, biar merasakan nikmat yang seringkali luput dari keseharian. Sekarang ditengah kesulitan rekan-rekan disini, rekan-rekan masih diberi isi kepala yang bisa dipakai berpikir, kaki yang bisa dipakai berjalan di kampus dan ke ruang dosen, mulut yang bisa digunakan untuk bicara walaupun dengan bahasa Polish sepotong-sepotong, atau tangan yang bisa dipakai untuk menulis catatan atau mencari materi kuliah di google. Coba salah satu hilang, apa nggak tambah berat proses sekolah yang harus dijalani. Misal tiba-tiba kita kena sakit gangguan bicara mendadak, pasti tambah repot sekolahnya, mau ngomong mau kita ke dosen bakal pusing bagaimana harus mengkomunikasikannya.

Bila kita pernah mendaki gunung, maka kita tahu kalau perjalanan ke puncak gunung itu memang sangat amat melelahkan. Tapi jangan pernah abai dengan udara segar dan jalanan setapak yang penuh pepohonan rindang, sabana, serta taman edelweis yang kita lewati. Sangat merugi jika karena terobsesi dengan puncak gunung, kita hanya merasakan sakit di kaki, tanpa bisa menikmati udara segar dan keindahan pemandangan di kanan kiri. Hal-hal yang kita lewati sepanjang jalan seringkali tak kalah bernilai dari puncak gunung itu sendiri.

Sekolah ini untuk diri sendiri bukan untuk orang lain. Kita tidak sekolah untuk mengesankan dosen atau rekan-rekan sekelas. Bila mereka terkesan itu bonus, kalau tidak itu bukan urusan kita. Apa yang ada dalam pikiran mereka tentang kita itu diluar kontrol kita. Kita sendiri yang bisa mengatur diri sendiri. Kita tidak bisa mengatur apa yang ada dalam pikiran mereka. Kita sekolah untuk membangun kompetensi sendiri. Kita yang paling tahu bagaimana usaha kita sendiri. Dosen bisa memberi nilai apapun, tapi kita yang paling tahu sampai sejauh mana kompetensi bertambah ataupun tidak.

Jadi dengan kemampuan bahasa Slavic yang dianggap membuat ketar-ketir, justru ini jadi kesempatan untuk belajar ikhlas diluar orientasi nilai, bahwa kerja keras adalah yang utama dibandingkan nilai 4 ataupun 5.  Namun dari pengalaman saya berkuliah di Rusia hingga di Polandia ini, saya percaya bahwa pengajar dan pendidik yang baik tidak akan buta. Pengajar dan pendidik yang baik tidak akan berusaha mencari celah, cacat, dan salah dari anak didiknya. Mereka tidak akan buta dengan kerja keras mahasiswanya. Mereka peka dalam mengapresiasi kelebihan sembari memberi catatan atas hal-hal yang mereka yakini bisa diperbaiki. Pendidik bukanlah petinju yang ingin menjatuhkan lawannya. Apalagi mahasiswa bukan lawannya dosen. Bila toh Anda tetep kekeuh dengan keilmuan Dosen yang Anda anggap setinggi langit, lalu Anda menganalogikan dosen Anda adalah super cerdas karena punya banyak publikasi di jurnal hebat dengan impact factor Q1 berikut dengan award-award science di kancah internasional yang mentereng, lalu Anda keder dan takut, maka percayalah dosen yang anda anggap super tadi tak akan menjatuhkan lawan yang bukan kelasnya. Petinju kelas berat hanya akan bertarung dengan petinju kelas berat, dan bukan petinju kelas bulu. Pendidik itu hadir untuk mendidik orang dari yang belum bisa menjadi bisa, yang sebelumnya belum paham menjadi paham, dan atau yang sudah paham menjadi lebih bisa mengembangkan potensi optimal dari dirinya. Mereka, pengajar Slavic kita, akan paham bahwa kita tidak lahir menjadi Slavic dan dari lahir menguasai bahasa slavic –yang terkenal super susah dan membingungkan ini. Dus… menuntut kita untuk bisa fasih berbahasa Slavic seperti para orang-orang Slavic bukanlah apa yang mereka ingin lihat dari kita. Bila toh bisa fasih itu bonus, tapi percaya, mereka akan terkesan dengan bagaimana kerja keras kita.

Sekolah di Negara Slavic ini berat. Tidak mudah. Kita tidak dimanjakan dengan pelayanan nomor wahid seperti di negara-negara anglo-saxon. Disini tidak ada pelayanan psikoterapi untuk mahasiswa asing yang depresi karena tugas-tugas kuliah yang overwhelming. Bahkan pasca kelas bahasa, tidak ada namanya pelayanan bantuan bahasa bila anda kesulitan dengan bahasa akademik Slavic. Semua anda kerjakan sendiri dan mandiri. Ketertinggalan harus dihadapi dengan self-determinasi yang tinggi. Saya yakin -bahkan yang paling simpel- Anda belajar untuk memahami USOS dengan utak-atik sendiri. Tapi ini yang membuat kita pastinya lebih tough dan membuat Anda ketika lulus tidak hanya punya nilai plus karena mempunyai kompetensi akademik tertentu, tetapi karena tiap tetes keringat kemandirian dan determinasi diri yang sangat bernilai yang membuat Anda sudah lebih memahami sedalam-dalamnya diri Anda sendiri.

Terakhir, sekali lagi ini bukan tips dan trik. Anda pasti punya pengalaman dengan nuansa sendiri yang terasa lebih dalam kesannya. Dan entah, saya percaya sekali, dua tahun lagi Anda akan bisa menceritakannya dengan makna dan kerendah-hatian yang luar biasa tentang apa-apa yang sudah terlewati.

Selamat menjalani dan menghidupi perjuangan kita sendiri 🙂

 

One Comment

  1. Muantap Mas Ardi! Mungkin hanya orang yang bisa menikmati kemewahan waktu personalnya dari nafas ke nafas yang bisa menulis seperti ini dengan sefasih ini ((jempol))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*