Articles

Isi kepala siapa yang perlu dibuat beradab?

courtesy https://www.quirkybyte.com/wp-content/uploads/2016/08/3-105.jpg

courtesy https://www.quirkybyte.com/wp-content/uploads/2016/08/3-105.jpg

Suatu saat saya mendengar cerita dari seorang teman yang kebetulan perempuan. Foto profilnya di whatsapp dikomentari oleh seorang seniornya yang ia sendiri tidak dekat sama sekali. Komentarnya, “kamu kelihatan cantik dan seksi pakai baju itu” Selanjutnya komentar pun memancing dan menjurus ke arah fantasi seksual, “Kemarin saya mimpi soal kamu. Saya tinggal berdua dengan kamu… dan kita saling memijat. dll” Pelaku bahkan sudah beristri. Perempuan yang diberi pesan sebenarnya risih luar biasa, namun mau tak mau mengabaikan pesan tersebut. Ia merasa tidak enak bila ia memberi balasan secara reaktif akan mempengaruhi relasi kerja dengan seniornya. Ini bukan cerita pertama yang saya dengar, sudah beberapa kali saya mendengar cerita-cerita yang kurang lebih serupa dari orang berbeda di sekeliling saya.

Mungkin bagi Anda yang wanita pernah sesekali mengalaminya, ketika rekan kerja yang sama sekali tidak dekat bahkan orang yang Anda hormati tiba-tiba secara sengaja mengirimkan pesan yang mepet-mepet berbau seksual.

Saya pernah mendapati seorang rekan laki-laki mengatakan. “Cepatlah menikah Di. Nanti kalau kamu sudah menikah maka auranya keliatan dan lebih menarik bagi wanita. Lelaki beristri itu lebih menarik bagi kebanyakan perempuan karena kelihatan lebih matang secara seksual,” sembari ia menunjukkan kelihaiannya untuk menggoda para SPG di sekelilingnya.

Satu eksperimen sosial yang dilakukan oleh Kate Walton yang dilakukan di Jakarta menunjukkan, hanya dalam waktu 35 menit ia dilecehkan secara seksual sebanyak 13 kali (lihat di sini). Penelitian yang dilakukan oleh Womenstats di tahun 2011 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perkosaan yang tergolong endemic, sama dengan kebanyakan negara-negara di Afrika dan Timur tengah (lihat di sini). Bahkan berdasarkan data yang sama, pelaporan terhadap kejadian perkosaan di Indonesia justru beresiko terhadap stigmatisasi atas korban itu sendiri (Lihat di sini). Permasalahan yang sama terjadi pada negara-negara Afrika seperti Mesir, dan juga negara-negara Timur Tengah yang lain. Sehingga bila dilihat maka pelaporan akan kejadian perkosaan atau sexual assault (belum termasuk sexual harassment) di Indonesia yang sudah cukup tinggi bisa jadi masih belum ada apa-apanya dikarenakan ketidakberanian korban untuk melaporkan dirinya pada pihak yang berwajib.

Kasus yang pernah terjadi di Aceh beberapa tahun lalu pun cukup membuat siapapun yang waras mengurut dada, wanita yang kedapatan berselingkuh justru diperkosa ramai-ramai oleh 8 orang laki-laki yang memergokinya. Perselingkuhan tidak bisa dianggap benar, namun mengupas isi kepala pemerkosa, yang menganggap bahwa perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual akan menikmati hubungan seksual dengan siapapun bahkan dengan orang yang bukan pilihannya, adalah luar biasa sakit dan menjijikkan yang ikut dihasilkan oleh konstruksi sosial yang begitu patriarkhis.

***
Simone de Beauvoir pernah mengatakan perempuan hanyalah jenis kelamin kedua, ia tak pernah benar-benar dilahirkan karena peran-perannya hanya dikonstruksikan dan didefinisikan bahkan bukan oleh dirinya sendiri. Budaya ini secara tak sadar menancap dan terinternalisasi menjadi keseharian sebagian besar masyarakat dalam melihat perempuan sebagai makhluk kedua yang didefinisikan oleh lawan jenisnya dan terinstitusionalisasi melalui norma-norma kebenaran yang begitu patriarkhis.

Norma dan institusi sosial itu sedemikian rupa membungkam bahkan ketika perempuan harus bersuara melawan ketertindasan atas dirinya sendiri. Sedemikian kuatnya subordinasi ini, bahkan mungkin kita banyak mendengar dengan entengnya para laki-laki di sekeliling menuntut penyerahan total atas perempuan kepada dirinya (laki-laki), sementara para laki-laki penuntut itu – baik secara diam-diam bahkan terang-terangan – tak pernah benar-benar menjaga diri dan telah menjajakan dirinya kesana kemari. Laki-laki jenis ini tiba-tiba bersih dari dosa-dosa libidinal dan menghakimi hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan tanpa pernah melihat apa-apa yang pernah dilakukan dirinya sendiri.

Perumpamaan mengatakan bahwa laki-laki layaknya seekor kucing yang wajar bila memakan daging dengan lahap dan rakusnya. Keganasan libido yang dianggap instingtual dari laki-laki dianggap biasa karena konstruksi sosial menganggap itu biasa, namun demikian perempuan hanya dianggap seonggok daging yang harus ditutupi dan diterima tanpa cacat, hingga akhirnya ia menjadi hak milik dari laki-laki yang berhak menikmatinya. Daging-daging yang terbuka ini harus menghindari dan menjaga diri dari keganasan para kucing yang tak kuasa menahan diri dan mampu melacak keberadaan daging melalui tiap indra yang dimilikinya. Ingat kucing-kucing itu sudah ganas dari sananya, sehingga sebagaimanapun si daging menjaga diri dari mata kucing, ia tetap saja dapat menghirup keberadaan daging tersebut dimanapun berada. Cacat logika ini sejatinya tidak hanya menempatkan perempuan begitu rendah dibalik superioritas laki-laki, namun menempatkan laki-laki sangat rendah dan primitif dengan kualitas yang hanya semata dikendalikan oleh alat kelaminnya ketika berhadapan dengan lawan jenis. Sehingga cukup meyakinkan bahwa laki-laki jenis ini adalah laki-laki yang belum beradab dan primitif. Laki-laki seperti itu seakan tidak punya kemampuan untuk merasakan kemuliaan manusia yang berbeda (termasuk berlawan jenis berbeda) sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan yang punya hak-hak setara dengan dirinya.

Tak cukup kemudian subordinasi perempuan yang kerap dijadikan obyek secara seksual dan obyek pelengkap atas eksistensi laki-laki, bahkan dibalik jargon kemuliaan perempuan di sektor domestik, mereka sering hanya dianggap satu-satunya pihak yang secara dominan bertanggung jawab terhadap kebahagiaan laki-laki dan rumah tangga. Jika ada laki-laki yang bilang bahwa kewajiban perempuan hanya mengurus rumah tangga, maka laki-laki pun sama. Kewajiban laki-laki dalam mengurus rumah tangga tidak kurang dari perempuan. Jika ada yang bilang perempuan punya hak yang tidak lebih untuk berbicara dibanding laki-laki, mungkin sesekali ia (laki-laki) perlu dicerabut hak-haknya untuk bersuara dan didengarkan. Alam telah memberi semua makhluk kesempatan untuk menghirup udara yang sama, untuk didengarkan dan diperlakukan secara adil dalam memenuhi kebutuhan material, mental dan spiritual. Dan jika ada mereka yang semata melihat perempuan sebagai obyek seksual bagi laki-laki, yang bisa digoda untuk memuaskan birahi dan fantasinya, maka sebenarnya isi kepala siapa yang perlu dibuat beradab?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*