Articles

Rezim dan Mainstream (1)

Pengantar Sejarah Pemikiran Psikologi di Rusia

Sedikit orang yang mengetahui tentang perkembangan psikologi di Rusia selama ini. Hubungan diplomatik yang memburuk selama orde baru membuat kita buta dengan perkembangan pemikiran yang terjadi di Rusia dalam periode tertentu. Paper singkat ini sedikit menggambarkan tentang sejarah perkembangan psikologi di Rusia, sekaligus di dalamnya akan digambarkan bagaimana kontribusi para cendekiawannya terhadap perkembangan psikologi domestik Rusia.

Mengenal dan memahami sejarah atas suatu bangsa akan membuat kita lebih mengenal nilai-nilai yang terdapat dalam bangsa tersebut sehingga meningkatkan pemahaman lintas budaya antar bangsa. Terkadang di dalam sejarah terdapat sebuah inspirasi yang dapat dipetik.

Pengalaman sebelum keberangkatan saya ke Rusia terdapat beberapa kolega, saudara, dan kerabat yang begitu mengkhawatirkan nasib saya dalam menempuh studi di sini. Bukan karena hawa dinginnya, namun lebih kepada ketakutan bila saya akan menjadi generasi komunis baru. Saya hanya tersenyum mendengar ini. Beberapa lapisan masyarakat Indonesia nampaknya masih belum begitu tahu jika Komunisme hanya tinggal monumen di Rusia. Sebagaimana masyarakat Indonesia juga begitu mudah melakukan overgeneralisasi bahwa ideologi komunisme dan pemikiran sosialisme adalah sama, padahal antara satu dan lainnya berbeda dan dalam banyak hal bisa saling bertentangan.

Pemikiran psikologi di Rusia banyak dihiasi oleh perdebatan antara paham idealisme dan materialisme. Beberapa orang bisa jadi akan alergi bila mendengar filsafat materialism yang kemudian secara ideologis sempat dijadikan satu-satunya haluan psikologi di Uni Soviet, namun sebenarnya spirit materialism dalam psikologi tidak hanya dapat ditemukan di kalangan akademisi Uni Soviet saja. Beberapa sejarah gerakan ilmu pengetahuan dunia bahkan Eropa Barat dan Amerika juga dilandasi oleh gerakan materialisme. Sigmund Freud, John Watson, dan Skinner adalah beberapa penganut paham materialism dalam psikologi.

Menariknya dibalik situasi politik yang represif terutama di era Stalin dan pengaruh filsafat materialism yang dijadikan haluan negara, terdapat fenomena yang cukup mengejutkan dikarenakan spirit idealisme, humanistik, dan spiritual juga mengalir diam-diam dalam mainstream psikologi Rusia. Bisa jadi ini juga disebabkan oleh budaya relijius kristen ortodoks dan perkembangan filsafat idealisme sebelum revolusi berlangsung. Beberapa pemikir dan filsuf Rusia seperti Semyon Lyudvigovich Frank jelas-jelas menyebutkan kepercayaannya tentang Jiwa yang abadi.

Sebelum Revolusi Oktober, ilmuwan Rusia yang tertarik dengan psikologi berkesempatan untuk belajar di luar negeri. Mereka membawa informasi baru tentang dunia dan mengembangkannya di Rusia dengan ciri khasnya sendiri. Perlu diketahui bahwa pada tahun 1897 Inggris hanya memiliki 2 laboratorium Psikologi. Pada saat yang sama Russia sudah mempunyai 6 laboratorium psikologi. Pendiri laboratorium tersebut diantaranya adalah Bekhteryev (di Kazan dan di Petersburg), Korzakuvym dan Tokarskiy (di Moskow), N. Lange (di Odessa), Sikorsky (di Kiev), Siskin (di Yuryev), dan P. Kovalskim (di Kharkov) (Ansakova: 2000).

Terdapat fakta yang tak bisa dipungkiri pula bahwa perkembangan psikologi di Rusia banyak menyimpan tragika dan sejarah hitam. Rezim kekuasaan pasca revolusi oktober 1917 mengharuskan haluan ilmu pengetahuan untuk mengambil jarak dari ilmu barat dan membuat mainstream ilmu pengetahuannya sendiri. Marxisme-leninisme dijadikan doktrin untuk semua bidang kehidupan. Pengembangan otecesvennaya psihologiya atau psikologi domestik harus berbasis kepada paham marxisme-leninisme-stalinisme dengan memformulasi Refleksiologi Pavlov menjadi satu-satunya mazhab dalam psikologi Rusia. Efek dari revolusi ini, tak ada satupun ilmuwan Rusia di era Stalin yang dapat berkesempatan untuk melakukan pertukaran wacara ilmu pengetahuan dengan dunia luar.

Pilihan karir dalam bidang akademik ataupun ilmuwan sosial humanitarian harus dibaiat dalam orientasi Komunisme dan Empirisme. Beberapa ilmuwan psikologi yang handal karyanya namun dianggap melenceng dari semangat Revolusi Oktober seringkali tidak digubris bahkan dilarang untuk menyebarkan pemikirannya oleh pemerintah Komunis. Namun hukuman larangan atas penerbitan sebuah pemikiran tersebut masihlah ringan karena ketika rezim Stalin berkuasa tak jarang ilmuwan yang melenceng dari kepentingan pemerintah dibuang ke camp pembuangan kerja paksa di Gulag atau bahkan dihabisi nyawanya. Era Stalin membuat para ilmuwan psikologi tidak dapat bergerak sama sekali. Sekolah-sekolah psikologi ditekan dan dibatasi pemikirannya. Praktek-praktek terapan dalam psikologi pendidikan, klinis, dan industri berikut kegiatan psikodiagnostiknya yang dianggap tidak selaras dengan Stalinisme ditutup dan dilabel sebagai ilmu borjuis.

Namun itu bukan berarti sejarah Psikologi Rusia berkembang tanpa inspirasi. Rusia sebelum revolusi tetap kaya akan ide dalam ranah psikologi. Bahkan dalam kontrol rezim otoriter Stalin, para ilmuwan Rusia tetap berusaha mencoba mencari cara untuk mengungkapkan kebenaran yang diyakininya. Ekspresi tindakan mungkin terbatasi oleh rezim tapi pemikiran dan hasratnya tak terbatas untuk mencoba mengungkapkan kebenaran yang ditemukan. Dalam kondisi yang penuh tekanan dan terisolasi dari dunia luar, mereka menjadi orisinil akan ide. Fenomena Samizdat menjadi pilihan bagi ilmuwan Soviet.

Samizdat adalah penggandaan buku tanpa sepengetahuan pemerintah pusat untuk menghindari sensor dan pelarangan. Tak jarang pelaku Samizdat ini harus menemui nasib malang bila diketahui KGB. Pemikiran Vygotsky tersebar salah satunya dikarenakan Samizdat. Pasca meninggalnya Stalin yang digantikan oleh Nikita Kruschev kebebasan intelektual mulai mencair, beberapa ilmuwan direhabilitasi nama dan pekerjaannya, namun fenomena Samizdat masih terus berlangsung untuk menghindari sensor pemerintah.

Menarik dicermati bahwa ide-ide yang muncul dari psikolog-psikolog di Jaman Soviet ini seringkali kemudian dikembangkan oleh Barat hingga saat ini. Pemikiran Vygotsky bahkan lebih berkembang di Eropa dibandingkan di Soviet ketika itu. Beberapa terjemahan pemikiran Vygotsky justru lebih dulu beredar di luar Soviet. Hal yang sama juga terjadi dengan riset-riset Alexander Luria yang kemudian dianggap sebagai pendiri dari neuropsikologi bersama dengan ilmuwan Amerika dan Kanada, yaitu Pribram dan Penfield.

Vladimir Smekal (1996) mengungkapkan mazhab psikologi di Uni Soviet ketika itu terbagi menjadi dua yaitu mazhab St. Petersburg dan Mazhab Moskow. Di St. Petersburg, Ivan Mikailovitch Setchenov (1829-1905) menjadi inspirasi atas riset-riset fisiologis dan tren eksperimen kuantitatif dalam perkembangan psikologi di Rusia. Setchenov juga dikenal sebagai pendiri Fisiologi di Rusia. Pengikutnya adalah Ivan Petrovich Pavlov yang dikenal dengan penelitian stimulus-respon anjingnya, dan seorang neurofisiologis Vladimir Mikailovich Bekhteryev.

Sementara Moscow dibawah Georgii Ivanovich Tshelpanov tetap dalam posisinya yang idealis dan mengkritisi pendekatan reduksionis dalam psikologi yang cenderung digunakan oleh kaum fisiologis (Smekal, 1996). Ia percaya bahwa filsafat adalah sistem ilmu pengetahuan. Penggabungan antara psikologi dengan filsafat adalah sebuah keniscayaan. Tshelpanov mengatakan bahwa ide dualisme lebih dapat menjelaskan suatu fenomena tertentu dibandingkan ide monisme. Dualisme memberikan batasan secara jelas mana hal-hal yang bersifat material dan mana yang bersifat spiritual. Ia percaya bahwa ada hal-hal yang tidak dapat diungkap oleh kaum reduksionis.

Pemikiran psikologis Tshelpanov dekat dengan pemikiran Wilhelm Wundt. Ia berada sejalan dengan ide mazhab Wurzburg yang ingin menggabungkan metode introspeksi dan eksperimen. Seiring berjalannya waktu, Tshelpanov mulai tertarik untuk beralih dari eksperimen introspeksi Wundt ke metode analitis sebagaimana metode Husserl dalam fenomenologi.

Pandangan Tshelpanov terkait jiwa mendapat dukungan dari Semyon Lyudvigovich Frank salah seorang filsuf Rusia yang hijrah ke Inggris dikarenakan rezim otoriter Stalin. Pemikiran Tshelpanov dianggap sejalan dengan pemikiran Frank terkait fenomenologi bahwa kepribadian hanya dapat menunjukkan kedalaman eksistensi hanya dalam dirinya (Smekal, 1996). Filsuf Rusia Leo Lopatin memberikan dukungannya kepada Tshelpanov. Lopatin mengatakan substansi jiwa adalah nonmaterial, sederhana, tak dapat terbagi, tak dapat hancur, dan menyatukan seluruh fenomena mental sehingga sudah saatnya empirisme ilmiah diakhiri.  Semangat awal antireduksionisme dan humanistik inilah yang kemudian diam-diam selalu hidup diantara ilmuwan-ilmuwan psikologi Soviet walaupun ditekan oleh rezim yang berkuasa.

Tradisi psikologi di Moscow hingga saat ini bisa dikatakan mengedepankan semangat humanitarian, hermeuneutik, fenomenologi, dan linguistic. Tradisi hermeneutik dipengaruhi oleh Alexander Aphanasyevich Potebnia yang pemikirannya bisa dikatakan mirip mirip dengan Carl Gustav Jung. Smekal (1996) mengatakan jika saja dulu Potebnia hidup di Jerman atau Inggris, ia akan menjadi salah satu pemikir handal dibidang hermeneutik atau menjadi pendiri gerakan psikosemantik. Sedangkan aroma humanistik yang kuat juga dipengaruhi oleh Michail Michailovitch Bachtin. Kehidupan Bachtin sendiri bisa dibilang adalah tragika. Karyanya hampir tak pernah dipublikasikan selama dia hidup. Popularitas karya Bachtin didapat justru setelah ia meninggal.

Dogma Psikologi terhadap Materialisme mekanistik

            Titik tolak dari Psikologi Soviet adalah materialisme mekanik dan materialisme dialektik. Materialisme dialektik di prakarsai oleh Karl Marx dan Frederic Engels. Sementara untuk mengetahui bagaimana jelasnya materialisme mekanik akan lebih baik jika kita kita melacak lagi sejarah perkembangan filsafat materialisme yang berkembang di inggris pada abad ke 17. Jejak filsafat Marx bisa dilihat dalam perkembangan filsafat materialism dari Bacon, Hobbes, Locke, David Hartley, dan Joseph Priestley. Awal dari kelahiran psikologi sendiri sebenarnya berasal dari pemikiran filsafat idealisme dan juga materialisme.

Hobbes sendiri berpikiran bahwa tidak mungkin untuk memisahkan pikiran dari materi. Ia menjelaskan bahwa proses mental merupakan isyarat dalam substansi otak tanpa melibatkan adanya unsur-unsur kejiwaan. Selanjutnya pada abad ke-18 gerakan materialisme mekanis terbangun sebagai sebuah sistem yang universal di Prancis. Kemudian David Hartley -yang mengembangkan pemikiran Hobbes dan Locke- membuat sebuah gerakan asosianisme yang koheren dalam sistem psikologi. Sebagaimana Hobbes, Hartley menegaskan bahwa proses mental harus dapat diamati dengan menggunakan investigasi ilmiah. Hartley berusaha menjelaskan secara fisiologis atas proses mental berdasarkan apa yang telah ditemukan oleh sains yang berkembang ketika itu yaitu kedokteran, anatomi, fisiologi, dan fisika optik dan fisika Newtonian (Simon dan Ananev, 2003).

Pada pertengahan abad ke 19 tradisi dan pandangan materialisme mekanis menguat di Rusia.  Hal ini ditulis oleh filosof sekaligus sosiolog Chernishevsky dan Herzen (Simon dan Ananev, 2003) yang kemudian menginspirasi fisiologis Ivan Mikailovitch Setchenov (1829-1905). Setchenov sebagaimana disebutkan diawal banyak memberikan inspirasi kepada Pavlov (1849-1936). Pavlov dan Setchenov menganggap bahwa fenomena mental selalu terhubung dengan fungsi otak dan hal tersebut selalu dapat diinvestigasi dengan metode objektif sebagaimana metode yang digunakan untuk mengamati ilmu-ilmu alam. Pavlov secara khusus juga menyebut pemikiran Rene Descartes sebagai titik awal untuk menjelaskan investigasi fisiologis berdasarkan prinsip-prinsip dasar sains (Simon dan Ananev, 2003).

Namun materialisme dialektis bagaimanapun berbeda dengan materialisme mekanis. Cacat dalam filsafat materialisme mekanis dalam kacamata materialisme dialektis adalah dikarenakan keajegannya dan dalam usaha untuk menjelaskan segala sesuatu dalam faktor-faktor mekanistik dan eksternal. Materialisme mekanis menggunakan pendekatan determinisme yang kuat namun secara implisit tetap terbatas karena tidak dapat mengungkapkan hal hal yang berlawanan dengan logikanya sendiri sehingga dengan mudah akan tetap terjatuh dalam logika-logika idealisme.  Sebagai contoh jika terdapat sesuatu perbuatan atau tindakan yang tidak dapat dijelaskan secara mekanis maka penganut materialism mekanis akan menjelaskan bahwa perilaku tersebut didasarkan atas spontanitas drive yang memotivasi perilaku manusia. Pandangan seperti ini akan dengan mudah terjerembab dalam pandangan idealisme.

Titik kritis Behaviourisme sebagaimana dikemukakan Pavlov adalah pada prinsip materialisme mekanis. Usaha dari Pavlov untuk mereduksi fenomena psikologis kedalam terminology fisiologis, dalam kacamata materialism dialektis secara bersamaan berarti memelihara proses subjektif atas kesadaran manusia yang tidak dapat dikaji dengan metode-metode objektif (Simon dan Ananev, 2003). Konsep dialektika tidak pernah mengabaikan elemen yang bertentangan dan kontradiktif di dalam sains ataupun proses sosial. Justru dengan mengenali elemen yang bersifat kontradiktif maka perubahan dapat terjadi. Sebagaimana eksistensi magnet terjadi dikarenakan terdapat kekuatan kutub utara dan selatan yang bertentangan dalam satu sistem yang sama.

Walau Pavlov tak beraliran materialis-dialektik, namun Pavlov mendapatkan banyak keistimewaan dari pemerintah Soviet. Padahal di awal revolusi oktober, Pavlov sempat menghina Bolshevik dengan menyebutkan bahwa Marxisme tak lebih dari pseudosains (Spencer, 2004). Hal ini dikarenakan pikiran Marx diawali bukan berdasarkan riset empiris. Namun apapun dan bagaimanapun, Pavlov dianggap representasi dari akademisi soviet yang beraliran materialis dan pernah mendapatkan hadiah nobel. Menendang dan mengucilkan Pavlov dianggap dapat berefek buruk untuk kepentingan politis Uni Soviet yang saat itu masih berusia muda (Spencer, 2004). Untuk mendapatkan penelitian materialisme marxis ketika itu tentu saja tidak mungkin. Mengingat pemikiran Idealisme juga ikut berkembang kuat sebelum revolusi oktober sehingga apapun pandangan materialis Pavlov dianggap sudah cukup merepresentasikan materialisme soviet dan dapat digunakan untuk memukul paham idealisme di Soviet. Para penganut paham materialisme mekanistik ketika itu beranggapan bahwa validitas atas dialektika memang tidak dapat diragukan, namun dialektika lagi-lagi harus dapat membatasi dirinya pada hal yang terukur dan dapat diobservasi dengan menggunakan metode ilmu alam. Intinya logika dialektis atas alam dapat dipahami dengan menggunakan konsepsi konsepsi mekanistik.

Menarik kemudian dicermati bahwa Tshelpanov yang sebenarnya beraliran idealisme sempat menyerang pemikiran Pavlov. Tendensi kritik ini tak jelas apakah bentuk sindiran terhadap rezim materialisme ataukah manifestasi atas diri yang frustasi karena merupakan pendukung idealisme yang berada dalam situasi harus mendukung rezim materialisme. Ia mengatakan simbol perubahan psikologi dalam kerangka ideologi baru (Marxisme-Leninisme) harusnya tidak membentuk peneliti-peneliti yang bekerja dengan Anjing  dan hubungannya dengan kajian refleksiologi yang dikerjakan dalam laboratorium, tetapi seharusnya lebih kepada pengorganisasian penelitian yang terfokus kepada psikologi sosial. Fisiologi adalah kata dimasa lalu, di abad ke 18, dan konsepsi refleksiologi bertentangan dengan ajaran Marxisme dikarenakan manusia adalah makhluk sosial. Akhirnya dapat diduga, Tshelpanov termakan sendiri atas perbuatannya. Kontrol rezim represif mengakibatkan ia dipecat dan tidak ada orang yang berani dan peduli untuk mempublikasikan pemikiran Tshelpanov.

Namun ini bukan berarti Pavlov menyetujui campur tangan pemerintah terhadap ilmu pengetahuan. Dalam beberapa tulisan dijelaskan bahwa Pavlov menyayangkan adanya tindakan represif terhadap ilmuwan-ilmuwan Soviet yang berseberangan dengan ideologi pemerintah. Ia mempercayai bahwa kebenaran ilmu pengetahuan tak dapat dicapai tanpa adanya kebebasan berpikir.

Selain Pavlov, penganut paham materialism mekanistik yang lain adalah Vladimir Mikhailovich Bekhteryev (1857-1927). Dia dianggap sebagai bapak psikologi objektif di Rusia. Pandangannya adalah ingin menggantikan psikologi sosial dengan refleksiologi kolektif. Penelitian-penelitian Bekhteryev adalah seputar otak dan fungsi kerjanya. Kontribusinya dalam psikologi adalah penelitiannya atas Hippocampus sehingga akhirnya dapat dipahami fungsi memori di dalam otak. Ia meyakini bahwa perilaku hanya dapat dijelaskan secara obyektif dengan menggunakan kajian refleksiologi. Oleh karenanya perilaku hendaknya dipelajari dengan menggunakan sifat-sifat yang observable.

Kematian Bekhteryev merupakan sebuah tragedi dalam sejarah psikologi Rusia. Dalam tulisan Brackman (2003) disebutkan Bekhteryev meninggal karena diracun ketika ia sedang menghadiri Kongres neuropatologi di Moskow. Joseph Stalin dicurigai sebagai dalang atas kematian Bekhteryev. Sebelum hadir di konferensi tersebut Bekhteryev sempat diminta untuk memeriksa kesehatan Stalin.  Ia menyarankan Stalin untuk berhenti dari politik karena paranoid serius yang dideritanya. Stalin rupanya dendam terhadap hasil diagnosis yang diberikan Bekhteryev. Selepas kematiannya, Stalin memerintahkan untuk menghapuskan nama Bekhteryev dalam literatur ilmiah Soviet.

Bersambung di Rezim dan Mainstream (2)


5 Comments

  1. Tulisan yang bercerita, menyenangkan membacanya
    Kapan bikin cerita psikologi Indonesia?
    Upaya untuk membongkar behaviorisme dalam perjalanan sungai masa depan

  2. Pingback: Ardinov » Blog Archive » Rezim dan Mainstream (2)

  3. jadi, filsuf/sejarawan/musikus/penyanyi?:p meluangkan waktu 20 menit buat memahami artikel ini mungkin sebanding dengan kuliah serius selama beberapa SKS, bedanya yg ini dilalui dengan menyenangkan. Thanks for the info mas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*