Articles

Kabar Burung dan Paradoks Ruang Privat-Sosial

Siapa diantara kita yang tidak pernah terlibat dalam rumor dan pergunjingan? Saya pernah. Mungkin anda juga? Rumor atau gosip memang makin digosok semakin sip ketika berhubungan dengan orang yang medan kehidupannya dekat dengan kehidupan kita. Sebaliknya bila medan kehidupan seseorang semakin jauh dari jangkauan orang lain, maka semakin rendah orang tersebut jadi dari interest medan hidup kita. Ibarat magnet maka semakin jauh suatu obyek berada dari medan magnet maka semakin jauh pula efek tarik menariknya. Ibaratnya bila rekan saya Rudi menceritakan tentang gosip si Ilham tetangganya yang rumahnya di Lumajang. Sementara saya juga belum pernah ke Lumajang, tidak pernah kenal dengan wajah si Ilham, maka gosip itu akan jauh dari medan kehidupan saya. Saya besar kemungkinan akan menguap dan tertidur ketika Rudi bercerita panjang lebar tentang gosip si Ilham.

Di tempat yang memiliki budaya kolektif (seperti di Indonesia) gosip sepertinya lebih mudah dipantik dibanding di tempat yang memiliki budaya individualistik. Namun dimanapun, selama manusia masih berhubungan dalam ruang-ruang interaksi sosial dan sejauh manusia memiliki ruang personal yang tak terjangkau maka gosip dan rumor akan selalu ada dalam budaya apapun. Yang membedakan adalah derajadnya dan kemampuan orang untuk memahami ada batas masuk dalam domain wilayah privat dan publik.

Budaya kolektif yang cenderung mengedepankan harmoni dan kebersamaan atas banyak hal serta batasan untuk mengungkapkan innerside seperti ekspresi emosi dalam kehidupan seseorang nampaknya menjadi satu alasan untuk membuat gosip semakin tumbuh subur di kalangan masyarakat. ketidaksamaan seseorang dengan sistem perilaku kelompok akan membuat seseorang menjadi lebih rentan untuk dibicarakan. Tetangga RT yang tidak pernah datang dalam acara-acara kampung akan lebih sering dibicarakan. Rekan kantor yang seringkali berlawanan dengan keputusan bersama juga lebih sering jadi bahan pergunjingan dibandingkan dengan rekan yang conform. Segala perilaku yang diimajikan tidak sama dengan imaji kelompok akan menjadi bahan menarik untuk dipergunjingkan. Anak-anak lugu dan yang bergandengan tangan di tepi jalan dengan lawan jenis akan memberikan efek kejut pada kelompok yang biasa mengimajinasikan anak lugu ini.

Referensi untuk membicarakan masalah perilaku seseorang yang berbeda dengan imaji kelompok dalam budaya kolektif adalah dengan mencari-cari rekaannya pada tataran kehidupan privat yang samar-samar jaraknya dari ranah publik. Imaji atas Harmoni kelompok tak membuat batasan antara yang public dan privat menjadi jelas namun justru menjadikan yang privat menjadi menjadi public dan begitu juga sebaliknya.

Dalam imaji dan ideology kelompok kolektif maka kebersamaan adalah jaminan. Maka sepanjang masih terikat dalam kelompok, maka ruang personal ibarat ditarik kuat dalam konteks harmonisasi kelompok dalam diri seseorang. Ruang personal mudah diumbar di ruang publik begitu juga domain publik dapat menjadi domain yang sifatnya personal. Begitu susah kemudian untuk mengatakan “whatever they did… it’s not our business?” kepada rekan sendiri yang begitu bersemangat untuk bercerita tentang kedekatan antara si A dan si B yang sedang jatuh cinta atau si C dan si D yang sedang putus cinta. Dan begitu repotnya si A dan B untuk membatasi ruangnya sebatas pada mereka berdua saja. Bukankah getar-getar gelora jatuh cinta atau sakit hati hanya dirasakan oleh mereka berdua ini.

Ruang personal mereka kemudian dipersempit karena ada satu ruang-ruang sosial yang diperlebar pada kelompok kolektif. Ada pula kesadaran paradox diantara mereka berdua bahwa mereka adalah bagian dari stabilitas kelompok. Ada ruang personal yang harus dikontrol sedemikian rupa namun ada kesadaran personal bahwa innerside adalah bagian dari kestabilan kelompok. Sifat ruang personal dan public ini kemudian tak hanya bersifat paradoks namun samar-samar. Kesamaran ini karena orang yang hidup dalam budaya kolektif tak cukup reflektif mengetahui hal mana yang privat dan hal mana yang public.

Samar dan paradoksnya ruang privat-publik ini membuat orang lebih menarik untuk membahas hal-hal yang gelap namun exist dibanding dengan hal-hal yang sudah tampak di permukaan. Ekspresi personal yang dibatasi dalam kehidupan individu untuk menjaga harmoni kelompok menjadikan sifat ruang personal menjadi ruang samar yang menarik untuk dikais-kais dalam ruang public. Justru karena sifat ruang personal yang ada namun tak terjangkau dan sifatnya terkontrol, orang kemudian selalu ingin tahu ada apa dibalik ruang privat.  Obrolan tentang prestasi rekan kerja biasanya luput dibicarakan karena tampak dalam keseharian, namun obrolan tentang perselingkuhan rekan kerja yang punya prestasi kerja luar biasa akan jadi obrolan yang punya magnitude untuk dipergunjingkan. Gosip tak pernah bekerja dalam ranah yang terbuka, walau domainnya berasal dari domain publik karena berada dalam medan terdekat namun ia bermain-main dalam ranah tanya dan kehidupan yang direka-reka. Semakin besar tanda tanyanya semakin menarik untuk direka-reka.

Saya kemudian berpikir, Jika ada sebuah kotak hadiah bersegel berbentuk hati berada dalam ruangan kelas dan bertuliskan nama saya yang ditulis dengan huruf timbul dan ditemukan oleh beberapa mahasiswa saya, maka kira-kira obrolan apa yang akan berkembang di kalangan mahasiswa saya?

Lalu terbersit dalam pikiran saya. Jika orang-orang yang sudah dibesarkan dalam nilai-nilai kolektif yang kesulitan untuk membedakan mana domain publik dan privat disatukan dalam satu ruangan tanpa sekat, kira-kira apa yang terjadi ya?

18 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*