Articles

Rezim dan Mainstream (2)

Sambungan dari artikel rezim dan mainstream (1)

Materialisme Dialektik dan Psikologi Aktivitas (Psihologia deyatelnosti)

Berbeda dengan ilmuwan yang berada di lingkungan St. Petersburg sebagaimana disebutkan sebelumnya, maka Vygotsky (1896 – 1934) merupakan ilmuwan psikologi Soviet yang menggagas sebuah pendekatan yang berbeda dalam memahami perilaku manusia. Bisa dikatakan Vygotsky merupakan Psikolog Soviet yang paling produktif, bersinar, dan dikenal dunia (selain Pavlov). Ia meninggal di usia 38 tahun dan total menghasilkan 140 karya ilmiah. Psikolog Amerika, S.E Toulmin, dalam review bukunya menjulukinya sebagai Mozart of Psychology (Toulmin, 1978 dalam Smekal, 1996). Ironisnya sebagian karya Vygotsky baru diterbitkan kurang lebih 50 tahun setelah kematiannya.  Beberapa orang beranggapan, bila saja Vygotsky hidup lama, ia tetap akan jadi korban dari kekejaman Rezim Stalin, karena walaupun ia mengakui bahwa dirinya adalah Marxis namun konsern pemikirannya berada jauh dalam kontrol rezim politik.

Vygotsky menganggap bahwa kerja Pavlov tidak mencerminkan karakter dialektis dan cenderung reduksionis. Pendekatan ala Pavlov cenderung menafikkan perbedaan antara binatang dan manusia sebagai makhluk psikologis. Hal tersebut telah mereduksi sosiologi menjadi biologi dan psikologi menjadi fisiologi (Spencer, 2004). Diam-diam Vygotsky rupanya sependapat dengan pendahulunya Tshelpanov bahwa hendaknya psikologi kembali ke dalam ranah sosial yang tidak menafikkan aspek historisitas dan kesadaran masyarakat. Aspek historisitas seharusnya merupakan hal yang tidak dapat dielakkan bagi penganut pemikiran Marx.

Vygotsky beranggapan bahwa kesadaran terkonstruksi melalui interaksi subjek dengan dunia. Kesadaran juga merupakan atribut relasi antara subjek dan objek. Sebuah tindakan terjadi karena termediasi melalui artefak-artefak budaya dan akan berorientasi kepada objek.

Pada waktu itu pemikiran Psikologi Dialektis dapat dianggap bid’ah oleh rezim Stalin yang secara formal mengakui paham mekanistik Pavlovian. Namun uniknya, debat antara penganut paham dialektis dan mekanis yang di awal-awal tahun 20-an hingga 30-an dibiarkan saja oleh Stalin.

Vygotsky bersama pengikutnya Alexander Luria, Leontyev, dan Rubinstein, merupakan peletak dasar teori aktivitas. Dalam istilah Rusia, aktivitas berarti sistem yang koheren atas proses mental internal, perilaku eksternal, dan motivasi yang dikombinasikan dan diarahkan untuk mencapai tujuan sadar. Definisi ini bertentangan dengan definisi dari behaviourisme Amerika dan refleksiologi Rusia yang hanya mempertimbangkan faktor eksternal sebagai pembentuk perilaku, dan juga beroposisi dengan kognitivisme Amerika yang hanya mempertimbangkan faktor-faktor internal sebagai pembentuk perilaku. Ia merinci bahwa perilaku manusia terjadi dikarenakan hubungan antara human agent (subjek) dan objek lingkungan yang termediasi melalui simbol-simbol dan artefak kebudayaan. Dari sini didapat bahwa perilaku manusia merupakan hasil hubungan antara 3 pihak yaitu manusia sebagai human agent, objek lingkungan dan kebudayaan yang memediasi. Kebudayaan dapat bersifat eksternal (fisikal) atau internal (psikologis). Manusia sebagai subjek aktif akan mencerap dulu stimulus yang ia dapat di dalam pikirannya, membandingkannya dengan sejarah hidup, kebutuhan, nilai, peran, norma-norma sosial, sebagaimana tersosialisasi dan terinternalisasi di dalam budaya untuk kemudian mengarahkannya kepada perilaku. Hal inilah yang kemudian membuat Vygotsky selain terkenal dengan teori aktivitasnya, juga dianggap sebagai salah satu peletak dasar  gerakan konstruktivisme.

Hingga saat ini di dalam dunia psikologi, jika berbicara tentang perkembangan kognitif rasanya memang tidak lengkap bila tidak menyebutkan nama Vygotsky. Pemikirannya tentang peran interaksi sosial terhadap perkembangan kognitif serta zone proximal distal (zona blizhaisego razvitiya) seringkali dibanding-bandingkan dengan pemikiran Jean Piaget, Psikolog Perkembangan berkebangsaan Swiss. Secara tidak disengaja, Piaget dan Vygotsky memang bekerja dalam tema yang sama yaitu terkait perkembangan kognitif, namun mereka tidak bersepakat terhadap apa yang ditemukan masing masing. Bagi Vygotsky, Piaget terlalu membesar-besarkan peran egosentris anak dalam perkembangan kognitif dan mengesampingkan kompleksitas lingkungan sosial yang ikut berperan secara signifikan.

Vygotsky juga ikut berperan dalam perkembangan Pedologi di Soviet. Pedologi merupakan kajian atas perilaku dan perkembangan anak yang merupakan penggabungan antara biologi, psikologi, dan sosiologi. Beberapa teori-teori Vygotsky yang berperan signifikan terhadap pendidikan anak disumbangkan dalam gerakan ilmiah ini. Gerakan ini juga banyak melakukan assessment dalam psikologi.

Sayangnya semua pendukung Pedologi ini diberantas habis oleh Stalin. Para ilmuwan Pedologi banyak yang mengakhiri nasibnya pada camp kerja paksa Gulag di Siberia. Pada tahun 1936 Komite Sentral Partai Komunis melarang penggunaan Psikodiagnostik dan seluruh bentuk assessment psikologi.  Dalam Surat Keputusan Komite Sentral Partai disebutkan bahwa gerakan antisains pedologi mempunyai tujuan untuk melindungi kelas tertentu dengan mencari bakat-bakat khusus dan membenarkan eksistensi dari kelas-kelas yang mengeksploitasi (Veer: 1990).  Veer (1990) mengatakan latar belakang keputusan ini bisa jadi dikarenakan mayoritas anak-anak buruh dan tani yang hanya mendapatkan skor rendah pada tes intelejensi. Satu sisi memang tak bisa dipungkiri bahwa alat-alat tes tersebut memang bias. Terdapat isu lain yang menyebutkan bahwa Stalin memberantas habis gerakan Pedologi ini dikarenakan anaknya, Vasily, mendapatkan hasil subnormal atas tes psikodiagnostik (Veer, 1990). Selanjutnya penggunaan psikodiagnostik hanya dapat dilakukan di rumah sakit neuropsikiatris secara rahasia.

Tak lama setelah kematian Vygotsky, Pemerintah mengeluarkan keputusan untuk melarang penerbitan karya-karya Vygotsky dan namanya dihapus dalam buku-buku ilmiah Rusia. Beberapa isu menganggap bahwa ketidaksukaan Stalin dikarenakan Vygotsky terlalu sering melontarkan tanggapan atas ide-ide psikologi di luar Soviet seperti Kurt Lewin, Sigmund Freud, Alfred Alder, dan Jean Piaget. Hal ini membuat Stalin menganggap bahwa Vygotsky adalah seorang borjuis idealis (Kosmanova, 2007).

Alexander Luria (1902-1977) juga merupakan psikolog yang bersinar di era itu. Luria, yang merupakan pengikut Vygotsky, menekankan pandangannya pada bahasa sebagai alat dari alat dalam memediasi perilaku. Penelitiannya bersama Vygotsky pada tahun 1931-1932 yang menyelidiki prinsip psikologi sosiohistoris yang dipengaruhi oleh gerakan Sovietisasi pertanian pada petani Uzbekistan mendapat teguran dari Pemerintah Soviet.  Penelitian yang berbau perbedaan psikologi budaya dianggap sebagai penelitian yang rasis dan tidak sesuai dengan semangat ideologi soviet yang menganggap semua orang adalah sama (Ratner, 1991). Akibatnya penelitian ini dilarang untuk diterbitkan oleh Rezim.

Salah satu prestasi Luria adalah mengembangkan konsep metode motorik terkordinasi yang dibuat untuk mendiagnosa proses berpikir manusia. Metode motorik terkoordinasi merupakan sebuah metode dimana gerakan simpel subjek dalam merespon stimulus verbal akan dicatat waktu reaksinya dan dinamika pergerakannya. Dengan konsep ini, dia mencoba menciptakan prototip alat lie detector pertama di dunia pada tahun 1930-an.

Selepas meninggalnya Vygotsky, Luria masuk sekolah kedokteran. Secara diam-diam, ia sebenarnya tetap menjaga ketertarikannya terhadap kajian proses berpikir dan bahasa. Pilihan terhadap sekolah kedokteran nampaknya merupakan pilihan aman karena merupakan ranah yang netral dari represi rezim politik. Ia melakukan penelitian terhadap penderita Aphasia, yang berfokus pada hubungan antara bahasa, pikiran, fungsi korteks, terutama dalam perkembangan fungsi kompensator atas penderita Aphasia. Setelah Stalin meninggal, ia banyak mendapat kesempatan untuk menghadiri beberapa konferensi ilmiah di luar Uni Soviet dan memberikan kuliah umum di Inggris ataupun Amerika. Pemikirannya ketika itu lebih popular di barat dan terlambat popular di Rusia.

Luria merupakan perintis gerakan neuropsikologi di dunia. Ia mengeksplorasi struktur neurologis otak dan hubungannya dengan perilaku dengan menekankan sistem fungsional kompleks dalam otak yang terdiri dari konstelasi komponen yang saling berinteraksi. Ia juga mampu menggambarkan perubahan fungsional lesi otak pada orang-orang yang mengalami cedera otak. Luria yakin bahwa perilaku adalah hasil dari aktivitas otak secara keseluruhan dibandingkan hasil dari area tertentu yang terdapat dalam cerebral cortex.

Pasca Vygotsky meninggal, Alexander Nikolaevich Leontev (1903–1979) menggantikan peran Vygotsky sebagai ilmuwan yang bergelut dalam ranah teori aktivitas. Sebagaimana Vygotsky, Ia percaya bahwa hakikat kesadaran tidak dapat dipisahkan secara sosial dan timbul dalam relasi sosial. Dikarenakan hubungan sosial berubah dari masa ke masa, maka kesadaran secara historis juga dapat berubah-ubah. Kesadaran historis yang berubah ini tercermin dalam aktivitas subjek.

Kontribusi Leontiev dalam ranah teoritis psikologi adalah terkait kajiannya terhadap struktur psyche dalam aktivitas. Ia percaya bahwa eksistensi psyche hanya akan nampak dalam hubungan dan perubahannya terhadap kesadaran subjek akan aktivitas kongkrit.  Leontev menggambarkan kepribadian manusia sebagai totalitas yang kompleks dalam interelasi seseorang dengan yang lain yang termanifestasi dalam aktivitas. Kepribadian merupakan formasi supersensual  sehingga kaitan dan hubungannya dengan orang lain akan menciptakan realitas tertentu yang sulit dijangkau oleh persepsi indrawi. Satu diktum yang menarik yang dikatakan Leontev dan S.L Rubinstein adalah “individom rozdayutsa, licnostyu stanovitsa” (Individu dilahirkan tetapi kepribadian dibentuk). Individu mengandaikan properti biologis. Sedangkan kepribadian lebih dihasilkan dari hubungan dan interaksi antara sosiohistoris dan ontogenesis. Sosiohistoris mengandaikan perpotongan sistem koordinat atas poros waktu historis dan poros ruang sosial dalam kehidupan yang merupakan kondisi atas aktivitas manusia. Totalitasnya merupakan sumber dari pengembangan kepribadian. Situasi sosiohistoris membentuk pilihan yang luas terhadap kepribadian dalam aktivitas apapun.

Premis  aktivitas menurut Leontiev adalah pada tujuan internal kesadaran seperti motif dan tujuan yang membentuk jalinan tindakan. Aktivitas didorong oleh kebutuhan dan sekaligus menyatakan kebutuhan individu. Kebutuhan bukan representasi dari pengalaman yang tidak menyenangkan (sebagaimana misalnya dikatakan oleh Sigmund Freud), namun termanisfestasikan dalam pencarian yang aktif. Pencarian atas pemuasan kebutuhan terwujud dalam pengolahan objek tertentu sehingga dapat memuaskan kebutuhan subjek. Ketika pencarian aktivitas diarahkan untuk memuaskan kebutuhan, maka kebutuhan akan diobjektifikasi menjadi kebutuhan akan sesuatu hal yang spesifik. Sehingga dari sini muncul motif yang merupakan manifestasi kebutuhan untuk direalisasikan pada aktivitas tertentu.

Vygotsky, Luria, dan Leontyev hanyalah beberapa nama yang menjadi peletak dasar dari psikologi deyatelnosti (psikologi aktivitas) di Rusia. Nama-nama lain yang kemudian sering disebut oleh ilmuwan barat adalah Vasily Vasilyevich Davydov (1930-1988) dan S.L Rubinstein (1889 – 1960).

Davidov merupakan psikolog pendidikan yang aktif mengusulkan pentingnya dialektika dalam aktivitas pembelajaran. Leontiev dan Piotr Yakovlevich Galperin menjadi inspirasi atas pemikiran Davidov. Gagasannya adalah format aktivitas pembelajaran abstrak-konkrit. Makna kata abstrak-kongkrit disini tidak berhubungan sama sekali dengan terminologi kognitif yang digunakan Piaget namun lebih kepada terminologi yang digunakan oleh Hegel. Sebagaimana Hegel mengatakan pencarian gagasan dunia baru adalah aktivitas yang berkelanjutan, maka format Abstrak kongkrit yang dimaksud Davidov adalah lebih kepada pencapaian cara berpikir yang lebih tinggi sebagai hasil negosiasi dan komunikasi yang berkelanjutan antara yang satu dengan yang lain. Salah satu ciri khas dari psikologi aktivitas Rusia adalah kepercayaannya terhadap sifat pikiran manusia yang dinamis dan aktif.

Davidov percaya bahwa kurikulum yang berbasis pengetahuan tidak pernah cukup, dikarenakan sekolah hendaknya juga lebih banyak mengembangkan kompetensi sosial dan komunikasi yang terkait dengan pembentukan intelektual dan moral siswa. Davidov mengembangkan pemikiran diskursif dan pendekatan dialogis dalam sekolah. Pandangannya bertujuan untuk menciptakan ahli dalam model pengajaran (master the teaching model) dan bukannya  menciptakan model pengajar yang ahli (model the master teacher). Anak berusia 7 hingga 8 tahun dalam kegiatan di sekolah dianjurkan menggunakan model argumentasi dan kontra-argumentasi dalam memahami sesuatu. Murid dapat berdebat dengan guru untuk mendapatkan pemahaman terhadap isi dari kurikulum. Dampak dari tindakan Davidov, Ia dicopot dari jabatannya. Pemikirannya dianggap secara terang-terangan menunjukkan pemikiran idealisme (Stepanova, 2007). Namun perlahan-lahan nama Davidov direhabilitasi dan pada tahun 1989 dia diangkat menjadi wakil presiden Akademi Pedagogi Rusia. Karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa. Teorinya diimplementasikan dalam praktek pendidikan di Rusia.

Eksistensialisme Humanistik dan jaman baru

Selama periode Uni Soviet, psikologi eksistensial humanistic hampir tidak dikenal oleh ilmuwan Rusia.  Prinsip dan formula dasarnya hanya diperbolehkan dianalisis dalam satu ruang saja yaitu  analisis kritis ideologi politik idealisme, meskipun faktanya terdapat banyak ide-ide humanistik yang inheren dalam psikologi domestic Rusia terutama teori aktivitas.  Saya memahami teori aktivitas merupakan teori yang mempunyai kompleksitas tersendiri justru dikarenakan selipan-selipan pandangan ontologis atas eksistensi manusia yang muncul dalam kehidupan yang serba membatasi ruang hidup mereka.

Ilmuwan soviet S.L. Rubinstein (1889 – 1960), yang juga seorang penganut dan peletak dasar psikologi aktivitas, merupakan perintis pendekatan ontogis di jaman pendekatan tersebut masih dianggap rezim mengarah pada bid’ah. Pendekatan ontologis adalah pendekatan yang biasa digunakan oleh para ilmuwan eksistensialis humanistik.

Sikap skeptic Rubinstein terhadap pembelajaran Pavlovian membuat ia bernasib sial. Ia diasingkan dari dunia akademi, bukunya dibredel dan pikirannya dilarang disebarkan. Ia mengalami situasi sulit, namun ia tidak berhenti untuk bertahan dengan apa yang diyakininya. Setelah meninggalnya Stalin pada tahun 1953 namanya mulai direhabilitasi. Ia mendapatkan pekerjaannya kembali dan dapat mengekspreksikan ide-idenya. Namun sayang ia keburu meninggal disaat ia sedang dalam puncak mengembangkan ide-ide ontologisnya. Pikiran-pikiran eksistensialisme yang tertuang dalam Buku Celovek i Mir (Manusia dan Dunia),  diterbitkan paska kematiannya. Buku tersebut sebenarnya merupakan proyek Rubinstein yang belum rampung. Pemerintah Soviet memberikan sedikit sensor pada beberapa bagian buku tersebut yang terlalu vulgar menunjukkan paham yang bertentangan dengan haluan ideologi.

Tidak seperti paham behaviourisme yang menolak untuk berbicara tentang masalah kesadaran, Rubinsten terang-terangan mengatakan bahwa kesadaran adalah ekspresi hubungan subjek kepada dunia yang menjembatani seseorang untuk mencapai self-determination. Psyche bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan eksis dalam dirinya, namun berada dalam hubungan antara kesadaran dan aktivitas. Hakikat kesadaran akan menciptakan cara yang unik untuk membangun relasi terhadap dunia.

Rubinstein mengatakan bahwa kesadaran sebagai proses mental tingkat tinggi  menunjukkan bentuk kontrol kepribadian dalam perkembangan relasinya dengan aktivitas. Kesadaran mempunyai 3 fungsi yang saling terkait satu dengan yang lain yaitu, regulasi proses-proses psikis, regulasi hubungan dengan yang lain, serta regulasi aktivitas dan kehidupan subjek.  Kepribadian sendiri pada hakikatnya bukan saja sebagai objek yang sekedar menjalani kehidupan tetapi sebagai subjek sekaligus pandangan mental seseorang. Kepribadian dapat mengatur dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas pengorganisasian yang dilakukannya. Hal ini menjadikan kepribadian bersifat selektif dan unik.

Rubinstein menegaskan bahwa kepribadian selalu terhubung dengan aktivitas, karena dalam aktivitaslah kepribadian dibentuk sekaligus mengalami berbagai perubahan yang membentuk integritas dalam struktur-strukturnya. Aktivitas tidak hanya memberikan kesatuan pada struktur internal kepribadian namun juga juga memberikan integritas yaitu relasi konsisten kepribadian dengan dunia.

Pandangan psikologi aktivitas -yang secara umum menekankan bahwa manusia adalah subjek yang aktif- kemudian melakukan perkawinan dengan gerakan humanistic eksistensial di eropa dan amerika. Hal ini sekaligus menjadikan Rusia dalam era keterbukaan menjadi khas dengan perkawinan antara kedua paham tersebut.

Perkawinan ini sebenarnya dimulai ketika Gerakan eksistensial humanistic di Amerika mulai memasuki Uni Soviet pada tahun 1971. Dituliskan oleh Andryushin (2006) pada saat itu Stanley Creepner mengatakan terdapat hal yang serupa antara pandangannya dengan teori aktivitas Soviet, seperti beberapa metode eksplorasi atas kesadaran dan pandangan atas manusia yang kreatif.

Dan sebenarnya memang tak sulit bagi ilmuwan Rusia untuk beradaptasi sekaligus mengawinkan pandangan teori aktivitas dengan paham eksistensial humanistic. Spirit humanisme dan spiritual sebenarnya merupakan tradisi kental dalam kehidupan masyarakat rusia sebelum revolusi. Beberapa novelis klasik terkenal seperti Lev Tolstoy, Nikolai gogol, Ivan Turgenev, Anton Chekov dan Fyodor Dostoevsky dalam tulisan-tulisannya selalu mempertanyakan hal hal yang bersifat eksistensial seperti makna hidup, kematian, kebebasan, tanggung jawab, dan kepercayaan spiritual (Andryushin, 2006). Hal ini kemudian diperkuat dengan pemikiran filosofis Bakhtin, Lopatin, Frank, dan Sergei Bulgakov. Sehingga walaupun rezim totaliter berusaha menekan perkembangan pemikirannya, namun melalui cara Samizdat, buku beraliran idealism dan relijius ortodoks tetap beredar secara diam-diam. Seni dan sastra Rusia dianggap memberikan sumbangsih yang besar terhadap gerakan eksistensialisme humanisme di Rusia.

Menjelang Runtuhnya Uni Soviet bisa dibilang hampir tidak ada yang tidak boleh dalam pengembangan dunia sains Rusia.  Namun tetap yang menarik dicermati adalah hasil perkawinan antara tradisi pemikiran khas rusia dengan pemikiran-pemikiran barat kontemporer. Salah satunya adalah teori psikologi pengalaman (psihologiya perezivanie) Fyodor Efimovic Vasiluk. Psikologi pengalaman mencerminkan perkawinan antara teori aktivitas khas rusia, psikodinamik, dan paham humanistik. Ia memformulasikan teorinya pada tahun 1983, 5 tahun sebelum Glasnost. Bisa jadi Vasiluk adalah pahlawan psikologi Rusia ditengah arus keterbukaan informasi yang tidak terbendung. Apapun kritik dan tanggapan atas teorinya, Teori Vasiluk merupakan satu bacaan wajib bila seseorang kemudian mempelajari psikologi di Rusia.

Vasilyuk berangkat dari terminologi psikologi domestik Rusia bahwa situasi kritis merupakan situasi yang syarat akan kemustahilan, dimana subjek dihadapkan pada ketidakmungkinan untuk mengimplementasikan kebutuhan internal hidupnya (seperti motif, aspirasi, dan nilai). Melalui tipologi yang digambarkan dalam 4 tipe kehidupan manusia, ia menggambarkan relasi manusia dalam dunia internal dan eksternal. Kompleksitas dan kontradiksi konflik yang terjadi dalam mekanisme dunia internal dan eksternal ini akan menghasilkan prototip perilaku tertentu yaitu; perilaku infantil yang mengedepankan prinsip-prinsip hedonism (tipe 1); tendensi impulsive yang dilandasi prinsip realitas (tipe 2); perilaku moral yang dilandasi oleh prinsip nilai (tipe 3); dan perilaku kreatif yang dilandasi oleh prinsip kebebasan (Tipe 4). Orang yang mampu mencapai aktualisasi diri adalah orang yang berada dalam tipikal ke 4, dimana terjadi ketika seseorang mampu melewati dunia internal-eksternal yang kompleks dan kontradiktif.

Bagi saya kekhasan tradisi dalam psikologi domestik Rusia adalah pada kontradiksi-kontradiksi psikis sebagaimana terdapat dalam ajaran dialektika, namun disatu sisi juga terdapat aroma emansipatoris Marx dan tradisi spiritual-eksistensial ortodoks. Kompleksitas, tradisi, dan gejolak masyarakatnya ditambah dengan asimilasi pemikiran barat membawa psikologi domestik Rusia pada sebuah kesimpulan bahwa hanya pada aktivitasnyalah manusia mempunyai sebuah makna eksistensial. Sebagaimana psyche yang tak pernah ada dalam dirinya dan selalu berintensi kepada aktivitas, maka aktivitas yang meniadakan sebuah intensi untuk kebaikan bersama hanya akan membuat individu menjadi teralienasi dan kosong.


Inspirasi

Walaupun masyarakat Rusia di era baru masih terkesan carut-marut dengan cepatnya perubahan yang terjadi di segala bidang, namun terdapat beberapa impresi yang saya catat selama saya menempuh studi lanjut disini.  Pertama, setuju atau tidak terhadap pandangan teoritis ilmuwan-ilmuwan tersebut namun penderitaan yang mereka alami sebagai konsekuensi atas sikap ilmiah yang mereka yakini merupakan sesuatu hal yang luar biasa. Bahwa kebenaran ilmu pengetahuan mempunyai otoritasnya sendiri yang tak bisa diperdagangkan dengan uang, politik dan kekuasaan.

Kedua, penghargaan atas karya sendiri. Beberapa karya ilmiah sosial humanitarian yang mungkin oleh kebanyakan orang dianggap sebagai karya sampah karena mengedepankan pandangan ontologis yang kontemplatif ternyata masih tetap tersimpan dan menghiasai khasanah pemikiran psikologi Rusia. Kecanggihan metodologis empiris mungkin bukan segalanya, namun orisinalitas dan kekayaan ide yang segalanya. Penghargaan atas karya dan sejarah sendiri sampai diwujudkan dalam hal yang kecil. Satu pengalaman yang membuat saya terkesan adalah bahkan beberapa kota terpencil yang saya kunjungi dapat mempunyai museum yang isinya cangkul,  gelas, samovar, garu, motif jendela, atau boneka hasil karya penduduk desa dari masa ke masa.

Ketiga, Pengetahuan akan apa yang terjadi di dunia luar adalah hal yang tak bisa ditawar, namun nama-nama seperti I.P. Pavlov, L.S Vygotsky, A.R. Luria, V.V Davidov, A.N. Leontev, A.V. Petrovsky., S.L. Rubinstein, A.J. Sheorziya cukup menggugah pemikiran saya, Kapan psikologi Indonesia dihiasi oleh nama-nama lokal.  Bahkan setelah udara kebebasan ada di Rusia, ilmuwan-ilmuwan seperti A.A. Kronik, V.J. Vasilyuk, B.S Bratuss, A. Smelyef, V.S. Merlin tetap berusaha mengembangkan gagasan yang orisinal dalam ranah psikologi domestik Rusia. Jika logika psikologi Rusia dikembangkan berdasarkan perspektifnya sendiri yang berbasis pada tradisi dan kondisi sosiohistoris masyarakat Slavian. Sepertinya bukan hal yang mustahil jika Indonesia mulai membangun pemikiran yang original dan ide-ide domestik, apalagi jika melihat modal sosial budaya yang dipunyai bangsa Indonesia. Bila setiap manusia adalah unik dengan karakternya masing-masing, maka setiap budaya mempunyai jalan berpikir dan logikanya sendiri. Saya sendiri percaya ada saatnya nanti dalam buku teksbook psikologi Indonesia, terdapat bagian sendiri yang membahas tentang perkembangan konsep psikologi domestik Indonesia.

Daftar Bacaan

  1. Andryushin. V.V. (2006), Istoriya razvitiya ekzistentsialno-gumanisticeskih skol na postsovyetskom prostranstve. Ekzistentsialno-gumanisticeskaya psihologiya v seti http://hpsy.ru/. Published 8/21/2006. open access http://hpsy.ru/public/x2651.htm
  2. Anshakova, V. (2000). K stoletiyu sozdaniya laboratorii eksperimentalnoi pedagogiceskoi psihologii.Zhurnal Razvitie Licnosti no. 3-4. str. «201—214». Moskva
  3. Vasilyuk, F. E. (1984). Psihologiya Perezhivaniya. Analiz preodoleniya kriticestih situatsii. Moskva: Izdatelstvo Moskovskogo Universiteta, 1984
  4. Kudryavtsev V.T. , Urazalyeva  G. K.(2005). V.V. Davidov: Tvorenie “novogo vseobshego”. K 75 letiyu so dnya rozhdeniya Vasiliya Vasilyevica Davidova. Zhurnal Voprosi Filosofiy . No.9 str. 45-60. Moskva
  5. Davidov V.V. (1996). Teoriya razvivayushego obuceniya. Moskva: Intor
  6. Gornostai P., Titarenko T. (2001). Psihologiceskie Teoriy i Konsepsii Licnosti. Kiev: Ruta
  7. Leontyev A.N. (1975). Deyatelnost, Sozhnanie, Licnost. Moskva: Politizdat
  8. Martsinkovskaya T.D., Yurevic A.V. (2008). Istoriya Psihologiya. Moskva, Gardariki. 
  9. Stepanova, M. (2007). Prosvetitel. Vasiliy Vasileyevic Davidov (1930-1998). Gaseti “skolniy psiholog”. No 15. Moskva.
  10. Brackman, R. (2003). The secret file of Joseph Stalin: a hidden life. Routledge : New York
  11. Kosmanova, (2007). Vygotskian Scholars: Visions and Implementation of Cultural-Historical Theory.Journal of Russian and East European Psychology. March-April  45:2, p 61 – 95. M.E. Sharpe: New York
  12. Matusov, E. (2001) The Theory of Developmental Learning Activity in Education: Dialectics of the Learning Content. Journal Culture & Psychology. June 7: 2 p 231-240 London: Sage
  13. Simon, B. Ananev, B.G. (2003). Psychology in the Soviet Union. International Library of Sociology and Social Reconstruction. Taylor & Francis Routledge e-Library
  14. Spencer, Ian (2004) From The Saliva Of Dogs To PoetryDebates On Marxist Psychology. Critique. Journal of Socialist Theory. April. 32: 1, p 97 — 113. London: Routledge
  15. 15.  Smekal. V (1996). Psychology In East Europe.  International Conference proceedings of Psychology in a Changing Europe, Eds: Hilary Gray, Nigel Foreman and N. J. Hayes. Banska Bystrica, Slovakia, p 4-12
  16. Ratner, C. (1991). Vygotsky’s sociohistorical psychology and its contemporay applications. New York: Plenum Press
  17. Veer, RVD, (1990). The reform of Soviet psychology: A historical perspective. Journal Studies in Soviet Thought August 40:1-3. p 205-221. DordrechtKluwer Academic Publishers

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*