Memoir

Gila dalam Kawanan

Agaknya kata komunis bangkit dan anti-islam sedang laku didengungkan dimana-mana, baik di kalangan saudara dan handai taulan. Saya sampai speechless. Saya sudah mampir ke hampir semua negara-negara eks blok timur bahkan ke Cina. Komunisme sudah tak punya taji dan tinggal ideologi kosong. Di Rusia dia bangkrut dan tidak laku. Di Cina pun sama, ia adalah kekuatan kapitalis dengan hanya menyisakan sistem satu partai yang kemudian masih disebut sebagai komunis. Komunisme secara ideologis seharusnya bicara ekonomi sebagai reaksi perlawanan terhadap kapitalisme yang menghisap, sehingga apalah Cina yang hanya labelnya komunis namun secara substantif adalah kapitalis. Penciptaan propaganda atas musuh lama yang bangkit lagi (baca komunis) lewat penemuan stiker palu arit, lambang rectoverso BI, dibuat terlampau memuakkan dan tidak masuk akal. Ketakutan yang dibuat hingga sampai masyarakat bawah ini terlampau menyesatkan dan menyesakkan. Bila tak setuju, maka kita dianggap bagian dari komunis dan anti-islam. Kebodohan atas judgement hitam dan putih ini sudah terlampau kronis. Kita tak punya literasi terhadap sejarah. Jargon komunis dan anti-islam sudah menyebar dan jadi alat represi psikologis bahkan di tingkat domestik, yaitu keluarga dan hidup bertetangga.

Diskusi dan rekonsiliasi di masyarakat tak berjalan maju, serta pikiran sebagian orang masih tertawan di jaman kegelapan. Rasa curiga bahwa orang yang tak setuju adalah komunis dan anti-agama pun menyebar seperti sel kanker. Sungguhpun kita telah membersihkan jejaring kita dari mereka yang menyebarkan energi negatif ini, namun ada saja orang dalam jejaring kita yang pada akhirnya terkontaminasi pada rasa curiga dan benci. Seperti Zombie, dia menggerogoti dan menular, bahkan menulari orang-orang baik. Sebenarnya banyak dari mereka yang tertawan benci dan rasa curiga adalah orang baik dan masih sangat baik di dalam relasinya di keluarga dan tetangga, mereka hanya tidak tahu atau tidak mau tahu.

Pada mereka yang tidak mau tahu, seringkali mereka hanya mengenal otoritas. Mereka kesulitan mengenali perspektif dan rasa dari orang lain, karena mereka sendiri-pun kesulitan untuk mengenali dirinya sendiri. Mereka tak mampu menghayati dirinya sebagai bagian dari yang lain, dan yang lain sebagai bagian dirinya sendiri. Untuk mengenali dirinya sendiri, mereka pun mempercayakannya pada otoritas di luar diri yang memberikan jawaban yang instant dan cepat. Barangkali ini wajar, mungkin pendidikan kita dulu tak pernah mengajari kita untuk mencari, menemukan diri, dan menemukan apa-apa dengan aktivitas kontemplatif. Bertanya dan menelusur jejak adalah tabu. Lalu kita mudah menyerap nilai dari role model yang kita anggap punya otoritas hanya semata-mata sebagai pihak yang memiliki kuasa untuk menilai atas apapun dan bukannya pada integritas yang dia punyai. Integritas dan berbuat baik bukan yang utama, yang terpenting adalah penghakiman atas apa-apa yang benar dan yang salah. Toh kebenaran atas dasar otoritas -dan bukan pencarian- tak mengajari kita menempatkan diri pada posisi yang lain atau melihat sesuatu dengan kacamata yang lain. Otoritas untuk menghakimi mana yang baik dan buruk buat orang lain, begitu cepat kita serap, sehingga kita pun mudah menuding yang lain sebagai sesat, anti, dan musuh yang tak suka dengan kita. Kita yang benar dan yang lain salah. Sehingga wajar jika hoax begitu mewabah. Kita belajar semata dengan otoritas sehingga mudah untuk menghakimi dan bukan dari refleksi, compassion dan integritas.
Dengan relasinya dengan yang lain, mereka menganggap bahwa golongan kami adalah sempurna dan yang lain adalah tersesat. Pada orang-orang ini, golongan lain hanyalah dipandang dengan rasa kasihan dan bukan belas kasih atau compassion.

Lalu pada beberapa orang yang berusaha keluar dari dirinya sendiri, keluar dari dunia dogmatik yang dipercaya oleh banyak orang, mengeksplorasi dunia hidup dengan penghayatan dan pengalaman langsung, tak ubahnya hanya jadi orang gila di tengah kawanan di rumahnya sendiri. Sebagaimanapun kita memperlihatkan bukti bahwa Cina adalah kapitalis, dan di Rusia komunis tak laku lagi, tetap saja kita adalah orang gilanya. Sebagaimanapun kita menunjukkan bukti sejarah bangsa dibangun atas perjuangan berbagai golongan dari kanan hingga kiri, bahkan Tan Malaka pun punya peran besar dalam sejarah Republik ini, tetap saja ketidakwarasan itu menjadi milik kita. Saya ingat perumpamaan Plato soal sekelompok orang yang tertawan di dalam gua sejak lahir. Dalam keadaan terikat, manusia-manusia yang tertawan dalam gua ini hanya mampu menatap dinding gua yang ada di depan mereka. Di belakang mereka ada api unggun besar, sehingga apabila ada sesuatu lewat, maka bayangan sesuatu tersebut akan terpantul di dinding di depan tawanan. Mereka pun menganggap bayangan itu adalah realitas yang sesungguhnya. Kemudian satu tahanan dilepas. Ia menyusuri apa apa yang ada diluar gua dan melihat sinar matahari, hutan, pepohonan dan binatang, serta segala macam warna dan bentuk. Ia memutuskan kembali ke gua dan mengabarkan pada para tahanan yang lain bahwa yang selama ini yang mereka lihat bukanlah realitas yang sebenarnya, di luar gua adalah realitas sebenarnya. Ia pun ditertawakan dan dianggap gila. Para tawanan lain pun meyakini bahwa keluar dari gua dapat membuat mereka gila, mereka pun mengabaikan dan menonton bayangan di dinding lagi.

Kita tak pernah lepas dari kemelekatan atas hal yang perseptual lalu meyakininya sebagai kebenaran yang paling absolut. Kemelekatan itu membuat kita mudah menghakimi dan memper-Tuhan diri sendiri dibanding menundukkan dan merendahkan diri dibalik kuasa Tuhan yang tak berhingga. Ini pun lagi-lagi merambah semua golongan, tak hanya golongan kanan hardliner, namun juga pada kaum yang merasa dirinya progresif tapi tertular virus kebencian dan saling merendahkan.
“This is his body not himself, this is his mind but not himself.” Kita bukan siapa-siapa selain terjebak dalam dunia perseptual yang nisbi, hati-hati menghakimi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*