Memoir

Monumental di saat terakhir

Selama beberapa kali saya menguji skripsi, hari ini mungkin pengalaman pertama bagi saya hingga cukup ‘trembling’ dalam menguji, bukan karena skripsinya buruk, namun justru karena saya membaca skripsi yang baik dari orang yang dianggap “aneh” oleh banyak orang.

Saya mengenal Rizal sejak dia menjadi mahasiswa baru di tahun 2007. Sempat beberapa kali mengajar dia. Beberapa tugas esai yang dia buat pada mata kuliah filsafat manusia bisa dibilang agak “acakadut”. Orangnya memang bergaya slengekan, sedikit tidak tahu aturan, dan gaya bicaranya memang membingungkan. Dibalik sikap Rizal tadi, saya tahu bahwa Rizal memang punya curiousity yang tinggi. Beberapa kali dia memang cukup “mengganggu” dengan pertanyaan-pertanyaan naïf yang sebenarnya reflektif dan kritis.

3 tahun saya tidak bertemu Rizal, dan kemudian saya bertemu dengannya lagi saat proses pengerjaan skripsi. Respek saya semakin bertambah ketika ybs benar-benar mengerjakan setiap tahapnya dengan semangat tinggi.  Satu waktu, saya pernah diminta oleh ybs untuk menjadi rater alat ukur epistemological belief. Kuesioner untuk memvalidasi penerjemahan alat ukur yang menggunakan backward dan forward translation dikemas dengan baik. Saya sendiri mudah untuk mengecek setiap penerjemahan item dengan konsepnya. Lain hal, ketidaksamaan penterjemahan antara saya dengan Pak Iwan juga dikonfirmasi ulang oleh yang bersangkutan sehingga saya dan Pak Iwan sama-sama bisa berdiskusi dan bersepakat terkait item yang tepat.

Dua hari sebelum sidang, saya membaca skripsi ybs. Tulisannya cukup ringkas dan tidak berbelit-belit. Tidak ada yang sempurna memang, ada yang sedikit bolong pula di teori dan pembahasan, namun bagi saya dia cukup bisa menuliskan latar belakang yang runtut dengan pembahasan yang cukup mudah dimengerti. Hasil penelitian tidak menunjukkan hasil yang signifikan, namun justru membuka perspektif dan problematika baru dalam penelitian di ranah epistemological belief. Alasan terakhir ini yang menjadi satu alasan kenapa saya berani memberikan nilai tinggi untuk naskah ybs. Selain juga karena saya ingat betul dengan keseriusan ybs dalam pengerjaan alat ukurnya. Ada beberapa revisi memang terkait pembahasan, namun beberapa temuan justru memberikan insight baru untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah gaya presentasi Rizal. Dibalik kegagapan, gayanya yang mondar-mandir, dan juga kelambatan gaya bicaranya, yang seringkali membuat orang lain harus sabar menunggu, harus diakui bahwa dia menguasai apa yang dia teliti. Dia tahu benar variabel dan tiap tahap penelitiannya. Beberapa kali dia meyakinkan kami dengan meminta kami untuk mengecek tulisannya di halaman berapa. Dia juga juga tahu benar tentang beberapa penelitian sejenis dan alat ukur lain yang sejenis.

Saya merasa beruntung karena bisa menjadi penguji orang yang selama ini agak dianggap “aneh”. Jujur saja, saya justru banyak belajar dari skripsi ybs. Anak yang IPKnya dibawah rata-rata ini ternyata justru punya karya ‘hebat’ di akhir masa studi S1-nya. Terakhir juga saya juga dibuat agak terharu dengan tanggung jawab ybs terhadap keluarga.

Apapun saya juga harus mengangkat topi terhadap pembimbing skripsinya. Bila ada orang yang bisa membimbing anak yang dianggap pintar, lalu anak tsb bisa mengerjakan skripsi dengan baik dan mendapatkan nilai tinggi itu biasa. Tapi bila ada orang yang dapat membimbing dan memotivasi anak yang cenderung di –underestimate-kan, dan kemudian anak tsb justru dapat menemukan performa terbaiknya selama kuliah pada saat pengerjaan skripsi, maka pastinya pembimbingnya adalah orang yang luar biasa. Ini monumental disaat terakhir, sekaligus modal semangat yang baik di masa selanjutnya. Apapun, bintang lima untuk mbak Aryani Triwrastari dan Rizal atas pelajarannya hari itu. )

10 Comments

  1. Bukan hanya kmu yang tercengang melihat Rizal, Di. Selama proses pembimbingan, Rizal membuat aku juga terheran2.
    Aku sendiri sering takut ketika “memaksa” dia dengan target2 yg tinggi. Takut apa ini akan menjadi beban buat dia, takut apa metodeku salah, takut jangan2 ini ambisiku tp bukan kebutuhan dia…

    Tapi Puji Tuhan, ketika semuanya bisa diselesaikan dengan nilai diluar bayanganku 🙂 Rizal yg mampu menutup dengan baik hasil kerja keras kami, Di.

    Selamat ya Rizal…gonna missing your “clometan”!

  2. Hmmm…merevisi sedikit komenku diatas…
    Bukan masalah “diselesaikan dengan nilai diluar bayanganku” yg penting…tp prosesnya berakhir dengan indah.
    Nilai apapun yg diperoleh Rizal, dia sudah membuktikan bahwa Dia bisa 🙂

  3. “tanggung jawab ybs terhadap keluarga” itu dalam bentuk yg bagaimana mas?
    mungkin bisa menginspirasi org lain jika di-share-kan 🙂 suwun

  4. salam kenal dulu ya om…

  5. Salut untuk Rizal, pembimbing dan pengujinya!
    Oh indahnya kalimat ini, “dia menguasai apa yang dia teliti. Dia tahu benar variabel dan tiap tahap penelitiannya.”
    Disaat yang lain sudah siaga, kedua penghuni 338 masih tiarap! Gubrak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*