Memoir

Catatan dari Banacha Szp.

Dimulai pada 31 Maret….

4 April 2015

Titik paling bawah dan paling kritis adalah momen hidup terdalam. Saat dimana manusia dibawa hampir kembali pada titik nol sehingga ia benar-benar menyadari bahwa tidak ada pengalaman buruk namun justru banyak momen sederhana yang luar biasa yang sudah dilewati. Warna, rasa, suara, tekstur, udara, dan aroma yang menghampiri adalah hal indah sederhana yang seharusnya tidak luput membuat tersenyum setiap saat. Kebahagiaan sederhana itu jauh lebih melampaui harga diri dan prestasi yang diperjuangkan setiap hari. Penghayatan atas hal itu seharusnya tak membuat manusia sendiri. Sayang… keseharian dan peradaban seringkali tak mengijinkan manusia untuk berbahagia dengan sederhana. 🙂

5 April 2015

Being desperately ill is not merely related to the gratitude in the time of healthy, but it may teach so many things regarding compassion, acceptance, and sincerity. Somehow we forget to be grateful to the illness we suffer from. It can be profound source of life contemplation and enlightens the spiritual path.

7 April 2015

Kalau misal anda pernah sakit dan sampai harus dirawat di rumah sakit beberapa hari, katakanlah hingga 2 minggu, maka bisa jadi sakit itu bukan sebenar-benarnya penyakit. Bisa jadi itu suplemen. Suplemen untuk menyegarkan jiwa dan spiritual.

Sakit bisa mengajarkan banyak soal compassion. Saat anda lemah dan tidak berdaya, anda tahu bedanya rasa kasihan (pity) dan belas kasih (compassion). Jika anda kasihan, maka anda bisa memberi namun tidak ingin yang dialami orang lain terjadi pada diri anda. Berbeda dengan belas kasih, anda memberi dan mengasihi orang lain, karena anda sadar bisa jadi suatu saat anda berasa di posisi orang lain jika anda tidak beruntung; atau anda sadar jika anda dilahirkan pada rahim yang berbeda, bisa jadi anda akan selemah orang yang anda lihat di rumah sakit. Kesadaran ini membuat manusia lebih menunduk dengan apapun yang dia miliki, dan juga tetap rendah hati dengan kesehatan yg dia punyai.
Di rumah sakit pula anda bisa tahu bagaimana dedikasi perawat yang membersihkan kotoran manula dua kali sehari & menyuapi mereka tiga kali sehari, terutama bagi manula yang lalai dikunjungi anak dan saudara, sehingga kita tahu pentingnya bakti ke orang tua di saat mereka masih hidup dan menjadi tua.

Sakit itu mengajarkan bagaimana orang sakit ingin diperlakukan.
Menjadi sakit itu tidak harus dengan berteriak-teriak meratap dan merasa menjadi yang paling malang. Karena manusia memang tidak selalu harus sehat. Sebagaimana gunung meletus dan gempa bumi yang juga proses alam yang terjadi terus menerus hingga mencapai keseimbangan, maka sakit itu juga bagian dari ekuilibrium.

10 April 2015

Saya melihat orang tua yang sejak pagi bersiap-siap dan mengatakan akan pulang. Sejak pagi hari wajahnya sumringah. Usianya lebih 85 tahun. “Home…” begitu katanya kepada saya dengan bahasa inggris seadanya dan sepatah-patah. Kakek tua ini lumpuh sebelah. Sembari meminta tolong untuk dipakaikan celana dan baju yg bagus. Saya bantu untuk mengenakannya. Dia bilang lagi, “my wife and son will come this morning. And I’m coming home.” Sejak pagi, dia selalu mengulanginya. Entah sudah berapa jam dia duduk dan berbaring gelisah di kasurnya sambil menatap ke arah pintu. Sudah jam 9 malam, tak ada yang menjemput. This gives me a very deep lesson :'(

11 April 2015

The times of suffering and vulnerable pain conditions can be those when we are most open in which our greatest strength really lies. Sogyal Rinpoche wrote “I am not going to run away from this suffering. I want to use it in the best and richest way I can, so that I can become more compassionate and more helpful to others.” Rumi said that pain can be the garden of compassion. So whatever and however desperate we become, accept the pain as it is because the pain can be our greatest ally in our life’s search for wisdom and compassion.

13 April 2015

Almost dying may teach human to live with unbounded compassion and to be sincere to die. Lucky if survivors have ever had direct experience and still get occasion to be alive. And the best place to learn about life compassion and sincerity to death is immediate experience in the PUBLIC hospital and stay together with those dying people

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*