Memoir

Catatan Soliter

Nggak bisa tidur. Akhirnya iseng lihat peta. Mencoba membuat titik dan garis, kemana saja pergi dan singgah 7 tahun ini. Kulit ini ternyata sudah pernah merasakan suhu dari -40 hingga +40. Dengan uang ngepas badan ini sudah berkali-kali merasakan tidur di terminal, stasiun, hingga airport; kaki ini ternyata sudah pernah dibawa ke ujung Lapland utara-Norwegia; ujung timur Ural mountains-Rusia, dan garis selatan di pantai Mediterania dan Laut Aegea. Jika tahun depan kesampean injakkan kaki di Cabo da Roca-Portugal, maka seolah genap perjalanan dari ujung utara sampai ujung selatan dan ujung timur hingga ujung barat Eropa. Dan itu mungkin sudah saatnya kembali mengabdi dan pulang untuk waktu yang panjang.

Catatan perjalanan soliter ini sudah berserak dan nggak semua tertulis detail di blog atau travelog, tapi semua tempat dan orang selalu punya ruang di ingatan. Pengalaman bertahan, beradaptasi, dan segala ilmu hidupnya jauh-jauh lebih berarti dibandingkan gelar master atau postgraduate. Pernah dibanned untuk masuk teritori negara orang karena diduga teroris, ada juga yang disangka akan jadi imigran yg cari kerjaan ilegal. Pernah dihina, dipukuli dan dikeroyok dan jadi korban rasisme, tapi sekaligus pernah ditolong dan diselamatkan orang di titik paling kritis.

Di setiap titik selalu ada keajaiban, sebagaimana dimanapun selalu ada orang baik yang jadi penyelamat disaat-saat dibutuhkan. Tujuh tahun ini membuat aku tahu dan menghayati rasanya jadi minoritas. Orang bisa beda secara fisik, value, atau status sosial namun hakikatnya orang kurang lebih sama. Dan ketika kita tahu rasanya jadi minoritas, maka kita maphum bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang mau berbuat untuk orang lain dan respek tanpa membedakan siapa kita, baik itu warna kulit, asal, kepercayaan, ukuran tebal kantong, dan status sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*